Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Antara Mutu dan Bisnis Pendidikan

Oleh Maulana Ridwan Raden

Setiap tahun momen hari pendidikan nasional (hardiknas) diperingati, flyer ataupun poster mengenai hardiknas menghiasi media sosial.

Menilik kurikum pendidikan saat ini, tepat nya kamis 02 mei 2024 momen hardiknas membuat kita berfikir akan mutu pendidikan. Dimana hampir tidak ada perubahan yang signifikan dengan ada nya kuririkulum merdeka, bahkan banyak dari guru kebingungan dengan kurikulum ini.

Jika guru saja masih kebingungan dalam memahami kurikulum ini, bagaimana dengan para murid?
Pada tahun 2022, Prof Indra Charismiadi seorang pakar dan tokoh pendidikan nasional dalam rapat panja kebijakan kurikulum Komisi X DPR RI yang membahas kurikulum merdeka mengatakan “gonta – ganti kurikulum tidak salah, hanya tidak waras saja”.

Kenapa dia mengatakan demikian?

Karena setiap berganti menteri , kurikulum selalu berganti. Padahal kalo kita liat, yang di kementerian bahkan sampai ke dinas pendidikan daerah orangnya masih sama cuma menteri nya saja yang berubah.
Saya rasa wajar, jika Prof indra mengatakan pemerintah tidak waras, karena terus melakukan hal yang sama tapi mengharap hasil yang lebih baik.

Nah relevansi nya apa? Kenapa hal ini dianggap sebagai bisnis pendidikan?
Ada kata yaitu “Business As usual with more money”.
Yang memiliki arti “Bisnis Seperti Biasa dengan lebih banyak uang”.

Di kurikulum k-13, untuk evaluasi akhir siswa disebut sebagai Ujian Nasioanal (UN). Dan untuk kurikulum merdeka evaluasi akhir siswa disebut sebagai Assessment Nasional.

Nah,Di Ujian Nasional (UN) anggaran nya itu 200 Miliar sedangkan di Assessment Nasional anggaran nya 500 Milliar.

Jelas mengapa ini dianggap sebagai bisnis pendidikan karena diganti pun dengan kurikulum merdeka mutu dari pendidikan kita jelas tidak meningkat malah membuat pusing.

BACA JUGA:  Uskup Agung Medan Apresiasi Kinerja Polri-TNI Amankan Ibadah Paskah

Penulis berpendapat, sebenarnya dulu sudah ada kurikulum yang tepat yang disebut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Di zaman sekarang, penulis melihat pembelajaran para siswa banyak menggunakan perangkat elektronik. Banyak siswa ketika menjawab soal hanya mengandalkan searching google. Sehingga meningkatkan budaya literasi didunia pelajar hilang.

Bahkan untuk media belajar langsung, buku yang ada di kurikulum merdeka ini cuma ada buku saku, yang mana semua materi digabung didalam satu buku. Sangat tidak efektif dirasa semua mapel buku nya digabung menjadi satu terutama pelajaran eksakta.

Sedangkan di kurikulum KTSP, semua mata pelajaran itu ada bukunya, sehingga gairah literasi dulu kental. jika para siswa ingin tau jawaban akan soal, setiap siswa harus membaca buku mapel terkait.

Penulis juga berharap di momentum hardiknas 2024 ini semoga pemerintah , baik dari tingkat paling tinggi yaitu kementerian pendidikan & kebudayaan bahkan sampai dengan tingkat paling rendah yaitu sekolah , mampu untuk meningkatkan kualitas pendidikan para siswa yaitu melalui budaya literasi yang ada di sekolah.(*)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan