Kenapa Manusia Harus Melatih Nalar Kritisnya?

Penulis: Anasril Azwar

Secara etimologis, kata kritik berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata krinein (menghakimi, membanding, menimbang). Kata krinein menjadi bentuk dasar bagi kata kreterion (dasar, pertimbangan, penghakiman). Orang yang melakukan pertimbangan/penghakiman disebut krites yang berarti hakim.

Kata tersebut kemudian berkembang menjadi “kritikos” (κριτικός), yang berarti orang yang mampu melakukan penilaian atau penilaian. Dalam bahasa Latin, kata tersebut menjadi “criticus,” yang kemudian diadopsi ke dalam bahasa Inggris sebagai “critic” dan “criticism.”

Kemudian, kata “kritik” berasal dari akar kata yang sama dengan “kritis”. Kata “kritik” memiliki arti yang berkaitan dengan penilai yang kritis atau ketajaman berpikir yang cermat dan kritis. Dalam konteks umum, kata “kritis” dapat merujuk pada sikap dan kemampuan untuk mengevaluasi, menganalisis, dan memberikan penilaian yang objektif terhadap suatu situasi, gagasan, atau karya seni.

Dalam penggunaan sehari-hari, “kritik” merujuk pada proses memberikan pendapat atau penilaian kritis terhadap sesuatu, seperti karya seni, karya sastra, film, musik, atau bahkan gagasan dan tindakan. Kritik ini dapat bersifat konstruktif, yaitu memberikan saran atau kritik yang membangun untuk perbaikan, atau bersifat kritis negatif, yaitu kritik yang menyatakan kelemahan atau kekurangan tanpa memberikan solusi.

Manfaat berpikir kritis adalah:
1. Memiliki kemampuan lebih baik untuk memecahkan suatu permasalahan.
2. Mampu mengambil keputusan lebih cepat dan tepat.
3. Mampu menganalisis masalah dari berbagai sudut pandang.
4. Lebih mudah untuk menemukan peluang dan gagasan baru. Lebih kreatif.
5. Tidak mudah termakan berita hoaks.
6. Lebih siap secara mental untuk menjalani hidup.
7. Memiliki kepekaan lebih tinggi dan tidak memandang segala sesuatunya dengan sebelah mata.
8. Tidak gampang dimanfaatkan.
9. Lebih memahami potensi dan kemampuan diri sendiri.
10. Lebih percaya diri.

Berpikir kritis tidak hadir secara alami pada seseorang. Jadi, kemampuan ini tentu perlu dilatih.
Pertanyaannya, bagaimana caranya berpikir kritis? Berikut beberapa upaya yang bisa dilakukan:

Belajar Mengidentifikasi Permasalahan.
Mencoba mengidentifikasi semua masalah yang sedang dihadapi. Cari tahu apa saja faktor yang turut berpengaruh atau menjadi penyebabnya. Jika memang memungkinkan, pisahkan semua informasi yang kamu dapatkan berdasarkan fakta atau hanya sekadar asumsi belaka.

Sering Bertanya.
Jangan takut untuk bertanya kalau kamu memang tidak tahu akan suatu hal. Tidak hanya ke orang lain, kamu juga bisa bertanya banyak hal pada dirimu sendiri, kok. Namun, fokuskan hanya pada hal-hal yang penting dan memang kamu butuhkan, bukan bertanya akan opini yang tidak bisa dibuktikan.

Banyak Membaca.
Selain itu, tingkatkan ilmu dengan membaca. Semakin banyak membaca, maka kamu akan semakin banyak mendapatkan informasi. Sebaiknya mencari informasi hanya dari sumber yang kredibel, ya. Apalagi kalau memanfaatkan teknologi internet.

Selalu Pertimbangkan Kondisi
Hindari mengambil keputusan tanpa pemikiran dan pertimbangan yang matang. Pikirkan semua aspek yang berpengaruh terhadap keputusan yang hendak kamu ambil, seperti dampaknya dan langkah apa yang bisa kamu lakukan selanjutnya. Lebih baik lagi, selalu pertimbangkan dari segala sisi, bukan hanya dari satu sudut pandang.

Fokus pada Tujuan yang Ingin Dicapai.
Teruslah berlatih untuk fokus pada tujuan yang ingin kamu gapai. Tidak lupa, lakukan evaluasi secara berkala. Cari tahu apa yang masih belum berhasil dilakukan, apa yang sudah dicapai, dan bagaimana opsi lain yang bisa dilakukan untuk memudahkan mencapai tujuan tersebut.

Para filsuf aliran kritisme.
Beberapa filsuf terkenal yang dikaitkan dengan aliran kritik. Berikut adalah penjelasan singkat tentang kontribusi mereka dalam aliran kritisme:

BACA JUGA:  Selain Bulan Dirindukan, Bulan Ramadhan Guru Bagi Ummat Manusia

Immanuel Kant:

Immanuel Kant adalah seorang filsuf Jerman yang hidup pada abad ke-18. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh utama dalam aliran kritisme. Pemikiran Kant terutama terkait dengan kritik terhadap pengetahuan dan pemahaman manusia. Dalam karyanya yang terkenal, “Kritik dari Akal Murni” (Critique of Pure Reason), Kant berusaha menjelaskan batas dan kemampuan akal manusia dalam memahami realitas. Ia membedakan antara fenomena (apa yang dapat diketahui oleh akal manusia) dan nomena (realitas yang mungkin tetapi tidak dapat diketahui oleh akal manusia). Konsep-konsep seperti kategori, sintesis, dan kategori imperatif juga merupakan kontribusi penting dari pemikiran Kant dalam aliran kritisme.

Friedrich Nietzsche:
Friedrich Nietzsche adalah seorang filsuf Jerman yang hidup pada abad ke-19. Ia terkenal dengan kritiknya terhadap tradisi, moralitas, agama, dan pemikiran metafisika. Nietzsche menekan konsep “kritisisme” dalam arti bahwa ia menantang nilai-nilai yang diterima secara umum dalam budaya dan menyembunyikan asal-usul dan efek dari nilai-nilai tersebut. Dalam karyanya yang terkenal, “Jenseits von Gut und Böse” (Beyond Good and Evil) dan “Also sprach Zarathustra” (Thus Spoke Zarathustra), Nietzsche mengembangkan gagasan-gagasan seperti “kehendak dia” (will to power), “kematian Tuhan, dan “etika pascamoral” yang mencerminkan pandangan kritisnya terhadap nilai-nilai yang diterima dan memberikan alternatif untuk refleksi filosofis.

Kedua filsuf ini memiliki kontribusi yang signifikan dalam aliran kritisme dan pemikiran filosofis secara umum. Namun perlu diingat bahwa ada banyak filsuf lainnya yang juga memberikan kontribusi dalam aliran kritisme, dan ini hanya merupakan gambaran singkat tentang dua tokoh utama dalam aliran tersebut.

Selain Immanuel Kant dan Friedrich Nietzsche, ada beberapa filsuf lain yang terkait dengan aliran kritisme. Berikut ini beberapa di antaranya:

Arthur Schopenhauer:
Arthur Schopenhauer adalah seorang filsuf Jerman yang hidup pada abad ke-19. Ia juga dianggap sebagai salah satu filsuf kritikal yang berpengaruh. Schopenhauer menekankan pentingnya pengetahuan yang kritis terhadap sifat manusia dan pengalaman hidup. Saya mengembangkan gagasan tentang “kehendak” (akan) sebagai kekuatan dasar di balik fenomena dunia. Kritik Schopenhauer terhadap rasionalitas manusia dan pandangannya tentang penderitaan dalam kehidupan mempengaruhi pemikiran Nietzsche.

Michel Foucault:
Michel Foucault adalah seorang filsuf dan penerus Prancis yang hidup pada abad ke-20. Meskipun tidak secara eksklusif terkait dengan aliran kritisme, Foucault melakukan kritik yang mendalam terhadap pengetahuan, kekuasaan, dan lembaga-lembaga sosial. Ia mempelajari hubungan antara pengetahuan, kekuatan, dan praktik kehidupan sehari-hari. Foucault memperkenalkan konsep pengetahuan arkeologi dan analisis kekuatan, serta bagaimana pengetahuan dan kekuatan saling terkait dan membentuk struktur sosial.

Theodor Adorno:
Theodor Adorno adalah seorang filsuf, sosiolog, dan musikolog Jerman yang aktif pada abad ke-20. Ia adalah salah satu pendiri dari Sekolah Frankfurt. Adorno mengembangkan kritik terhadap budaya massa dan budaya industri modern. Dalam karyanya yang terkenal, “Dialektik der Aufklärung” (Dialectic of Enlightenment), Adorno dan Max Horkheimer menyembunyikan degradasi manusia oleh budaya massa dan berpendapat bahwa rasionalitas modern cenderung mengarahkan pada pengendalian dan penghancuran manusia.

Ini hanya beberapa contoh filosofi yang terkait dengan aliran kritisme. Terdapat banyak filsuf lain yang juga memberikan kontribusi penting dalam pemikiran kritis dan analisis kritis terhadap berbagai aspek kehidupan manusia.

Dirangkum Dari Berbagai Sumber

Editor: Freddy W

Posting Terkait

Jangan Lewatkan