Ide Sifatnya Hidupkan Kemanusiaan, Ideologi Cenderung Membunuh Kemanusiaan

Banyak pemikir (filsuf) besar di masa lalu yang hasil pemikirannya dipakai bahkan sebagai ideologi oleh berbagai bangsa.

Sepeeti Socrates, Plato, Aristoteles, Agustinus dari Hippo, Thomas Aquinas, Karl Max, Niccolò Machiavelli, François-Marie Arouet (lebih dikenal sebagai Voltaire) , Jean Paul Sartre, Wiliam Nietzsche, Jean Jacques Rosesau dan lain-lain

Terlepas dari keyakinan kita memutlakan TUHAN Yang Maha Kuasa sebagai kebenaran hakiki, alangkah baiknya tidak melupakan orang-orang pemikir besar di masa lalu yang dalam konteksnya masing-masing memberikan sumbangan pemikiran yg mampu menggerakkan sejarah dunia menjadi peradaban yg lebih baik.

Siapapun mereka itu, apapun latar belakang hidup mereka, mereka sering kita justifikasi percaya TUHAN (Theisme) atau tidak Percaya TUHAN (Ateisme) itu menurut anda dan saya. Mereka tetap adalah ciptaan TUHAN yang sama dan sederajat di mata TUHAN.

Mereka telah berupaya memaksimalkan rasio atau nalar berpikir pemberian TUHAN. Justru yang merasa ber-TUHAN, cenderung lupa memaksimalkan rasio, sebagai akal untuk bernalar sehat memaksimalkan otak pemberian TUHAN.

Iman yang selalu dibenturkan dengan Rasio. Akhirnya akan tercipta dualisme pemikiran Tuhan, yaitu Tuhan Iman dan Tuhan Rasio.
Sementara Iman dan Rasio itu pemberian TUHAN.

Suatu Anugerah Umum dari TUHAN, rahmat bagi semesta alam, menjadi pelita dalam kegelapan.

Para pemikir yang jadi menghasilkan ide dan kemudian menjadi sumber ideologis bagi founding fathers atau pendiri bangsa dan negara.

Seringkali mereka adalah filsuf yang mejalani kehidupan dengan berbagai konflik kehidupan adalah orang sakit-sakitan dengan uang sedikit, dikucilkan, dianggap gila, sakit jiwa dan dianggap musuh sosial. Namun ide dan pemikiran mereka menerobos kegelapan dalam segala keterbatasan.

Mempelajari mereka membuat anda dan saya harusnya menjadi lebih rendah hati atau lebih tepatnya sadar, bahwa saya dan anda adalah orang dungu dan bodoh yang menghambur-hamburkan fasilitas, banyak waktu, tenaga dan segala macam sumber daya lewat begitu saja untuk hal-hal yang tidak tidak berguna, tidak terlalu ada manfaatnya.

Inilah alasan saya dan anda harusnya selalu mengucap syukur bahwa TUHAN yang Maha Kuasa, Sang Pencipta pernah menaruh berlian-berlian, sebagai orang-orang briliant dalam sejarah yang hasil pergumulan hidupnya sebagai petikan cahaya pemikiran memprovokasi nalar sehat berpikir menjadi refleksi bagi saya dan anda menterjemahkan tangisan jiwa yang selama ini tidak mampu saya dan anda bahasakan karena saya dan anda memang bodoh, bukan pemikir dan memperjuangkan pemikiran untuk menghadirkan kebaikan.

Justru yang memanfaatkan pikiran filsuf untuk disitire, ditafsir secara sepihak atau partikular digunakan untuk pemuas hasrat ego sentris dalam Ideolog Politik, Ideolog Kekuasaan, Ideologi Bisnis dan Ekonomi, Ideologi Pendidikan dan lain sebagainya, bukan mendatangkan rahmat bagi semesta justru menjadi malapetaka bagi semesta. Karena ideologi dari ide-ide para Filsuf, anda dan saya cenderung gunakan bukan untuk melayani sesama justru untuk menundukan, mengontrol, menguasai dan memperbudak sesama.

Ide-ide para filsuf seperti, Niccolò Machiavelli, Jean Paul Sartre, Karl Max dan Frederich William Nietzsche ada pemikiran yang tidak jahat, ide-ide memaksimalkan nalar berpikir sehat, supaya manusia tidak gagap dan dungu ketika berhadapan dengan konflik-konflik kehidupan nyata. Ide mereka memanusiakan manusia lewat rangsangan pemikiran.

Namun ketika dijadikan Ide para Filsuf dikerdilkan terkurung dalam kotak-kotak Ideologi yang formal. Dan dimanfaatkan oleh tokoh-tokoh politik cenderung ego sentris, yang lebih fokus untuk pemujaan diri seperti Adolf Hitler, Lenin, Stalin dll. Akhirnya ide dan pemikiran Filsuf yang harusnya memanusikan manusia menjadi Ideologi yang mengarahkan pada Otoriterian yang tidak manusiawi justru memperbudak manusia.

Ketika Ide yang manusiawi menjelma menjadi Ideologi akan menjadi racun yang sangat mematikan bagi kemanusiaan.

Perang Ideologi antar negara-negara berpaham Liberalisme, Sosialisme dan Agamaisme, Kapitalisme, Komunisme dan lainnya, selalu mengorbankan nyawa manusia.

Inspirasi dari kehidupan para filsuf.
Penulis: Freddy W