Oleh: Fikri Fadil
Meningkatnya akses internet di Indonesia telah menjadi salah satu perhatian utama pemerintah dalam mendukung pemerataan pendidikan, terutama di daerah terpencil. Menurut data terbaru dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), pada tahun 2024, cakupan akses internet mencapai 97% wilayah Indonesia, termasuk daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Teknologi seperti Very Small Aperture Terminal (VSAT) juga memainkan peran penting dalam menyediakan internet di wilayah-wilayah tersebut
Dengan adanya akses internet, diharapkan kualitas pendidikan di daerah terpencil dapat membaik. Namun, apakah hal ini benar-benar terjadi? Beberapa survei menunjukkan hasil yang beragam. Sebuah laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa meski akses internet di daerah terpencil meningkat, hanya sekitar 65% sekolah di daerah 3T yang berhasil memanfaatkan teknologi ini secara optimal untuk kegiatan belajar mengajar.
Dalam sambutannya pada acara erja sama antar bank sindikasi di Jakarta, Luhut Binsar Panjaitan, menyatakan pentingnya akses internet yang merata sebagai tahap awal dalam meningkatkan pendidikan.
“Penyediaan akses internet yang merata adalah langkah awal, tetapi tantangan berikutnya adalah memastikan guru dan siswa mampu menggunakan teknologi ini untuk meningkatkan pembelajaran. Tanpa bimbingan yang memadai, akses internet saja tidak cukup untuk mengubah kualitas pendidikan,” ujar Luhut, di Jakarta (3/3/2021).
Pelatihan bagi tenaga pengajar di daerah terpencil sangat dibutuhkan agar teknologi digital dapat dimanfaatkan dengan optimal dalam kegiatan belajar mengajar.
Teknologi VSAT
Pada sisi lain, teknologi VSAT yang digunakan di banyak daerah terpencil menjadi solusi dalam mengatasi keterbatasan infrastruktur jaringan konvensional. Penggunaan VSAT memungkinkan sekolah-sekolah untuk mengakses materi pembelajaran digital dan mengikuti program pendidikan jarak jauh, terutama selama pandemi COVID-19. Menurut data dari Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII), sekitar 78% sekolah di daerah 3T kini sudah terhubung dengan internet melalui VSAT. Namun, beberapa kendala masih terjadi. Salah satunya adalah masalah kestabilan koneksi internet yang berdampak pada kelancaran pembelajaran.
Dalam sebuah forum bertajuk Internet Talk yang digelar oleh calon ketua umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) periode 2021-2024 pada 18 Juni 2021, pakar bidang Information Communication Technology, Parlin Pasaribu, menyoroti permasalahan koneksi internet di daerah terpencil. Ia menyatakan, “Koneksi internet yang kurang stabil di daerah terpencil sering kali menghambat proses pembelajaran online. Banyak siswa yang kesulitan mengikuti kelas virtual karena sinyal yang tidak konsisten”.
Hal ini menunjukkan bahwa meski akses internet telah meningkat, kualitas koneksi masih perlu diperbaiki untuk mendukung pembelajaran yang lebih efektif. Selain itu, meski teknologi telah menjangkau banyak wilayah, masih terdapat kesenjangan dalam pemanfaatan teknologi tersebut antara sekolah di kota besar dan daerah terpencil.
Siswa di Kota Besar
Siswa di kota besar cenderung lebih terbiasa dengan penggunaan perangkat digital dalam kegiatan belajar sehari-hari dibandingkan dengan siswa di daerah terpencil, yang masih dalam tahap adaptasi. Berdasarkan laporan dari World Bank tahun 2023, hanya sekitar 40% guru di daerah 3T yang merasa nyaman menggunakan perangkat digital dalam mengajar, dibandingkan dengan 85% di kota besar.
Salah satu contoh nyata dampak positif dari akses internet di daerah terpencil adalah program pembelajaran jarak jauh di Papua dan Maluku. Program ini berhasil meningkatkan tingkat partisipasi siswa dalam pembelajaran hingga 15% pada tahun 2023.
Dalam sebuah wawancara yang dipublikasikan di portal tribunnews, Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G. Plate, mengungkapkan pentingnya akses internet untuk daerah-daerah terpencil di Indonesia. Ia menyatakan, “Dengan akses internet, anak-anak di Papua dan Maluku kini dapat mengikuti kelas-kelas online yang sebelumnya tidak mungkin dijangkau. Ini adalah langkah penting untuk mengurangi kesenjangan pendidikan di Indonesia.” Pernyataan ini menyoroti upaya pemerintah dalam menghadirkan akses digital untuk meningkatkan kualitas pendidikan di wilayah-wilayah yang sebelumnya tertinggal.
Namun, di sisi lain, masih terdapat masalah ketimpangan dalam kualitas materi yang diakses. Siswa di daerah terpencil sering kali hanya dapat mengakses materi yang terbatas karena rendahnya literasi digital di kalangan guru dan siswa. Hal ini menyebabkan mereka kalah bersaing dengan siswa di kota besar dalam hal kualitas pengetahuan dan keterampilan teknologi.
Program beasiswa seperti LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) juga berperan dalam mendukung siswa dari daerah terpencil untuk mengakses pendidikan yang lebih tinggi. Menurut data LPDP, pada tahun 2023 menurut data kemenkeu, sekitar 12% penerima beasiswa berasal dari daerah 3T, meningkat dari 8% pada tahun 2021. Namun, program ini masih menghadapi tantangan dalam hal proses seleksi yang ketat dan keterbatasan informasi bagi calon penerima beasiswa di daerah terpencil.
Akses Internet Berdampak Baik
Meskipun demikian, banyak pihak yang optimis bahwa peningkatan akses internet akan terus memberikan dampak positif bagi pendidikan di daerah terpencil. Pemerintah melalui Program Indonesia Merdeka Belajar berkomitmen untuk terus memperbaiki infrastruktur teknologi di sekolah-sekolah terpencil dan memberikan pelatihan teknologi bagi guru. “Kami berharap bahwa dengan dukungan ini, kualitas pendidikan di daerah terpencil dapat sejajar dengan di kota-kota besar dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan,” ujar Nadiem Makarim. Di Jakarta (12/08/2022)
Peningkatan akses internet di daerah terpencil memang telah membuka peluang bagi perbaikan kualitas pendidikan. Namun, berbagai tantangan seperti kualitas koneksi, keterampilan teknologi di kalangan guru, dan kesenjangan literasi digital harus segera diatasi agar manfaatnya bisa dirasakan secara merata. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat perlu bersinergi untuk memastikan bahwa teknologi dapat benar-benar menjadi jembatan untuk mengurangi kesenjangan pendidikan di Indonesia, sehingga visi “Pendidikan untuk Semua” bisa terwujud di seluruh penjuru negeri.
Penulis Adalah Mahasiswa asal dari depok UIN saizu purwokerto