Pedagang Kecil Jangan Tertinggal! APKLI Merah Putih Dorong UKM dan PKL Kuasai Pasar Digital

JAKARTA, WORD PERS INDONESIA – Pedagang kaki lima (PKL) dan pelaku usaha kecil tidak boleh terus tertinggal di tengah pesatnya perkembangan ekonomi digital. Transformasi teknologi dinilai menjadi salah satu kunci agar usaha rakyat mampu memperluas pasar, meningkatkan produktivitas, dan tumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang lebih kompetitif.

Pesan tersebut ditegaskan Ketua Umum DPP Asosiasi Usaha Kecil, Mikro, dan Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) Merah Putih, dr. Ali Mahsun Atmo, M.Biomed., saat tampil dalam program Podcast Indonesia Produktif di Jakarta Timur, Kamis (15/10/2026).

Dalam dialog yang dipandu Rivai dari Direktorat Produktivitas Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) RI itu, Ali membahas tantangan sekaligus peluang bagi pelaku usaha kecil dan sektor informal, mulai dari petani, nelayan, industri rumahan hingga pedagang kaki lima.

Menurut Ali, perkembangan teknologi harus menjadi kesempatan bagi ekonomi rakyat untuk berkembang, bukan justru menjadi hambatan baru bagi mereka yang memiliki keterbatasan akses, keterampilan, maupun sumber daya.

“Digitalisasi adalah kunci pembuka pintu kesejahteraan yang lebih luas bagi UKM PKL di Tanah Air. Kita ingin memastikan ekonomi rakyat kecil tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga memiliki daya saing tinggi di pasar digital,” tegas Ali.

Ia menekankan, digitalisasi tidak cukup dipahami sebatas penggunaan media sosial atau pemasaran melalui internet. Lebih dari itu, pelaku usaha perlu didorong untuk meningkatkan kualitas produk, memperbaiki pengelolaan usaha, memperluas jaringan pemasaran, serta memanfaatkan teknologi sesuai kebutuhan bisnis masing-masing.

APKLI Merah Putih Siapkan Dorongan agar Pedagang Kecil Naik Kelas

APKLI Merah Putih menyatakan komitmennya untuk mendorong pelaku UKM dan PKL agar mampu beradaptasi dengan perubahan pola perdagangan dan perilaku konsumen.

Ali menilai, pedagang kecil memiliki potensi besar untuk berkembang apabila memperoleh pendampingan yang tepat, akses terhadap teknologi, serta kesempatan meningkatkan kemampuan usaha secara berkelanjutan.

Karena itu, transformasi digital harus diarahkan pada hasil nyata: pasar yang semakin luas, produktivitas yang meningkat, pengelolaan usaha yang lebih baik, dan peluang pendapatan yang lebih kuat.

Ali, yang mengaku telah bergiat memperjuangkan hak-hak ekonomi rakyat kecil sejak 2011, juga menempatkan penguatan UKM dan PKL sebagai bagian dari agenda pembangunan ekonomi nasional.

Menurutnya, pelaku usaha kecil tidak boleh hanya menjadi penonton ketika perdagangan semakin bergeser ke platform digital. Mereka harus memiliki kesempatan yang sama untuk memanfaatkan perubahan tersebut demi meningkatkan kesejahteraan keluarga dan memperkuat kemandirian ekonomi.

Gandeng Ekosistem Digital, Produktivitas Jadi Perhatian

Dalam kegiatan podcast tersebut, Ali didampingi Ketua Bidang Media Sosial dan Konten Digital DPP APKLI Merah Putih, Aan Dwi Puantoro, serta Yanti dari Departemen Media Sosial.

BACA JUGA:  Reses di Sumber Jaya, Fatmawati Siap Bantu Pembangunan Drainase dan Soal UMKM

Kehadiran tim tersebut memperlihatkan perhatian organisasi terhadap pengembangan komunikasi dan konten digital sebagai bagian dari upaya memperluas jangkauan informasi bagi pelaku usaha kecil.

Ruang dialog bersama Kemnaker RI itu juga menjadi kesempatan membahas pentingnya peningkatan produktivitas pekerja sektor informal. Kolaborasi antara organisasi pelaku usaha dan pemangku kepentingan di bidang ketenagakerjaan diharapkan dapat memperkuat pemahaman mengenai tantangan yang dihadapi pedagang kecil di tengah perubahan ekonomi.

Bagi UKM dan PKL, pemanfaatan teknologi perlu disertai peningkatan keterampilan. Tanpa pendampingan dan kemampuan mengelola usaha, kehadiran platform digital belum tentu otomatis meningkatkan penjualan atau keuntungan.

Oleh sebab itu, penguatan kapasitas sumber daya manusia, akses pemasaran, dan kemampuan beradaptasi menjadi bagian penting dari agenda mendorong usaha rakyat naik kelas.

UKM dan PKL Strategis Menyongsong Indonesia Emas 2045

Ali menilai penguatan ekonomi rakyat memiliki arti strategis dalam menghadapi bonus demografi 2030 dan mewujudkan cita-cita Indonesia menjadi negara maju pada 2045.

Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah selama ini berperan besar dalam menopang aktivitas ekonomi serta menyediakan lapangan kerja. Potensi tersebut perlu diperkuat melalui peningkatan produktivitas, kualitas usaha, dan pemanfaatan teknologi yang tepat sasaran.

Ali juga menyoroti pentingnya memastikan bahwa manfaat pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinikmati pelaku usaha besar. Pedagang kecil, industri rumahan, petani, dan nelayan harus memiliki ruang untuk berkembang serta memperoleh manfaat dari perubahan teknologi.

Transformasi digital, dalam pandangannya, bukan sekadar mengikuti tren modernisasi. Langkah tersebut harus menjadi instrumen untuk memperkuat posisi ekonomi rakyat agar mampu bersaing secara lebih luas.

Dengan pengalaman organisasi yang dimilikinya, termasuk sebagai Ketua Umum Bakornas LKMI PBHMI periode 1995–1998 dan Sekretaris Lembaga Sosial Mabarot PBNU periode 2000–2005, Ali menegaskan pentingnya keberpihakan pada penguatan ekonomi masyarakat.

Baginya, keberhasilan digitalisasi tidak cukup diukur dari seberapa banyak pelaku usaha menggunakan teknologi. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana teknologi membantu mereka meningkatkan produktivitas, memperluas kesempatan usaha, dan memperbaiki kesejahteraan.

“Yang ingin kita dorong adalah bagaimana UKM dan PKL Indonesia mampu bertumbuh, berdaya saing, dan naik kelas. Ekonomi rakyat harus memiliki kesempatan untuk maju di tengah perubahan zaman,” menjadi penegasan arah perjuangan APKLI Merah Putih dalam mendorong transformasi usaha kecil.

Melalui penguatan kapasitas dan pemanfaatan teknologi, APKLI Merah Putih berharap pelaku usaha kecil semakin siap menghadapi persaingan sekaligus mengambil peran lebih besar dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045.

Reporter: Popy
Editor: ANasril

Posting Terkait

Jangan Lewatkan