Penulis: Tere Liye
Saya cukup sering datang ke Bengkulu untuk mengisi berbagai acara. Di toko buku Gramedia saja sudah dua kali. Di kampus-kampus, sekolah-sekolah, hingga kegiatan bersama Bank Indonesia, entah sudah berapa kali totalnya. Banyak. Bahkan termasuk acara gratis di sekolah.
Setiap undangan seperti itu selalu saya prioritaskan. Alasannya sederhana: saya senang menggerakkan semangat membaca. Harapannya, masyarakat semakin gemar membaca dan semakin pintar.
Namun sayangnya maaf sekali harus berkata jujur, Provinsi Bengkulu hingga hari ini masih menjadi salah satu provinsi yang paling tertinggal dibandingkan provinsi lain di Sumatera.
Jika kalian pernah berkunjung ke China, misalnya, ukuran Kota Bengkulu mungkin hanya setara kota kecamatan di sana. Bahkan jika dibandingkan dengan Pulau Jawa, Kota Bengkulu masih kalah maju dibandingkan banyak kota kabupaten di sana.
Dalam situasi seperti ini, seharusnya masyarakat Bengkulu memiliki semangat besar untuk maju. Seharusnya ada dorongan kuat untuk berubah. Tapi apa yang terjadi?
Langkah pertama untuk maju tentu dimulai dari memilih pemimpin yang baik. Sayangnya, fakta yang ada justru memprihatinkan. Dalam urusan kepala daerah yang terjerat kasus korupsi, Bengkulu bahkan hanya “dikalahkan” oleh Riau. Beberapa gubernur pernah tersangkut kasus korupsi dan ditangkap oleh KPK. Begitu pula sejumlah bupati.
Pertanyaannya, mengapa hal seperti ini bisa terjadi berulang-ulang? Mengapa masyarakat bisa terus-menerus tertipu oleh pencitraan? Mengapa begitu mudah percaya pada janji-janji politik?
Padahal jelas, sebuah daerah tidak akan pernah maju jika dipimpin oleh orang-orang yang korup. Itu baru yang terungkap. Bagaimana dengan yang belum terungkap?
Atau jangan-jangan, masyarakat Bengkulu memang belum benar-benar ingin berubah? Masih mudah tergoda oleh amplop, sembako, atau bantuan sesaat dari para politisi? Masih mudah terpukau oleh jabatan dan kekuasaan?
Jika memang ingin maju, maka salah satu kuncinya adalah meningkatkan literasi politik. Mulai berani bersikap kritis. Berani bertanya. Berani mengkritik pejabat yang tidak bekerja dengan baik.
Bukan malah sebaliknya mudah tersinggung ketika pejabat dikritik.
Terus terang, saya sendiri kadang lelah menulis tentang Bengkulu sejak awal tahun 2000-an. Topiknya sering kali sama: korupsi lagi, korupsi lagi.
Pertanyaannya sekarang, apakah masyarakat Bengkulu tidak lelah dengan keadaan seperti ini?
Atau mungkin, sebenarnya masyarakat tetap merasa baik-baik saja. Bagaimanapun juga, Bengkulu pernah disebut sebagai salah satu provinsi paling bahagia di Indonesia bersama Riau.
Jika benar demikian, mungkin memang semuanya terasa cukup.
Penulis: Tere Liye, yang juga Sang penulis novel “Teruslah Bodoh Jangan Pintar”
Artikel ini sudah di modifikasi oleh redaksi































