“Dari Janji Lele Utuh ke Roti dan Telur: Publik Pertanyakan Realisasi Program Makan Bergizi Gratis”

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sempat digambarkan sangat ambisius saat dipaparkan dalam sidang kabinet pada 15 Desember 2025. Dalam rapat tersebut, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa anak-anak penerima program akan mendapatkan menu bergizi dengan porsi besar.

Dalam pemaparannya, disebutkan bahwa satu anak bahkan bisa mendapat satu ekor lele utuh sebagai lauk makan. Jika diperlukan, satu dapur layanan atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) juga disebut dapat menyembelih seekor sapi untuk memenuhi kebutuhan menu daging bagi para siswa, atau sekitar 19.000 sapi disembelih dalam satu hari jika seluruh 19.000 SPPG beroperasi.

Paparan tersebut juga menggambarkan kebutuhan logistik yang sangat besar. Setiap SPPG disebut bisa membutuhkan hingga sekitar 3.000 ekor lele dalam sekali proses memasak. Laporan itu membuat Presiden Prabowo sempat terkejut, namun ia merespons dengan antusias dan memastikan kembali apakah benar satu anak akan mendapat satu ekor lele.

Namun beberapa bulan setelah laporan tersebut disampaikan, yang justru ramai beredar di media sosial adalah paket makanan MBG di sejumlah daerah yang dinilai jauh dari gambaran di ruang rapat. Dalam beberapa unggahan yang viral, menu yang diterima siswa disebut hanya berupa roti murah, telur sebiji, segenggam kacang, dan kadang ditambah sedikit kurma.

Perbedaan antara laporan di tingkat pusat dan kondisi yang beredar dari lapangan itu memicu pertanyaan publik. Jika dalam perencanaan disebut tersedia anggaran dan kebutuhan logistik untuk lele, daging sapi, beras, sayur hingga buah, mengapa menu yang sampai ke tangan siswa terlihat jauh lebih sederhana.

Sejumlah pengamat menilai kesenjangan tersebut menunjukkan kemungkinan adanya persoalan pada rantai distribusi program. Mulai dari proses pengadaan bahan makanan, pengelolaan dapur layanan, hingga distribusi ke sekolah-sekolah dinilai perlu diawasi lebih ketat agar sesuai dengan rencana awal.

Program Makan Bergizi Gratis sendiri merupakan salah satu program prioritas pemerintah yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah di Indonesia. Karena menyangkut jutaan siswa dan anggaran besar, transparansi serta pengawasan pelaksanaan program ini menjadi sorotan publik.

Kini, perhatian masyarakat tertuju pada bagaimana pemerintah memastikan bahwa menu yang dijanjikan dalam perencanaan benar-benar sampai ke piring para siswa. Tanpa pengawasan yang kuat, program yang seharusnya meningkatkan gizi anak justru berisiko menimbulkan pertanyaan baru tentang pengelolaan anggaran dan pelaksanaannya di lapangan.

Jangan Lewatkan