Di sebuah sudut kota yang tak pernah benar-benar tidur, kisah ini bermula dari rutinitas yang tampak biasa. Sebuah rumah besar, pagar tinggi, kendaraan keluar masuk silih berganti, rumah seorang anggota dewan. Di dalamnya, ada seorang ibu muda, seorang anak balita, dan seorang perempuan muda yang bekerja sebagai pengasuh.
Dialah pengasuh bayi itu. Namanya mungkin tak banyak dikenal. Ia bukan pejabat, bukan pula orang berpengaruh. Ia hanya seorang wanita muda yang datang dari provinsi sebelah. Baginya, menjadi pengasuh bukan sekadar pekerjaan, tetapi jalan bertahan hidup. Namun, hidupnya berubah dalam hitungan hari.
Tuduhan yang Mengubah Segalanya
Hari itu, suasana rumah mendadak berbeda. Betis sang anak diduga memar. Ia menangis lebih lama dari biasanya. Kecurigaan muncul. Ada dugaan sang pengasuh telah mencubit si kecil.
Tak ada peristiwa yang disaksikan banyak orang. Tak ada keramaian. Hanya dugaan, pertanyaan, dan emosi yang cepat memuncak.
Bagi seorang ibu, rasa khawatir pada anak bisa berubah menjadi kemarahan. Terlebih jika ia merasa buah hatinya disakiti. Apalagi ia adalah istri seorang anggota dewan, figur publik, yang setiap tindakannya tak lepas dari sorotan.
Laporan Dibuat. Proses Hukum Berjalan.
Dan sejak saat itu, kehidupan sang pengasuh tak lagi sama. Dari mengasuh balita, kini menjadi tersangka. Statusnya berubah. Dari seorang pengasuh menjadi tersangka.
Ia dipanggil, diperiksa, dimintai keterangan. Kata-kata yang sebelumnya tak pernah akrab di telinganya. Berkas perkara, penyidikan, pasal, pelimpahan dan kini menjadi bagian dari hari-harinya.
Tangannya yang biasa menggendong balita harus menandatangani dokumen hukum. Wajahnya yang dulu tersenyum menyambut majikan, kini tertunduk di hadapan penyidik.
Kasus ini kemudian dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Kota Bengkulu. Artinya, perkara dianggap telah memenuhi unsur untuk dilanjutkan ke tahap penuntutan. Proses hukum berjalan. Tetapi bagi pengasuh itu, proses ini bukan sekadar prosedur. Ini adalah ujian hidup.
Dua Dunia yang Berhadapan
Kasus ini seperti mempertemukan dua dunia yang sangat berbeda. Di satu sisi, keluarga dengan posisi sosial kuat, akses luas, dan pengaruh besar. Di sisi lain, seorang perempuan pekerja yang hidup dari upah bulanan, tanpa kekuatan selain harapan bahwa kebenaran akan menemukan jalannya.
Namun hukum, setidaknya dalam prinsipnya, tidak mengenal jabatan atau latar belakang. Ia berdiri di atas asas kesetaraan.
Pertanyaannya, apakah rasa keadilan juga bisa berdiri setegak itu?
Luka yang Tak Selalu Terlihat
Bagi sang ibu, mungkin ada ketakutan kehilangan rasa aman bagi anaknya. Bagi sang pengasuh, ada ketakutan kehilangan masa depan. Di kampungnya, kabar sudah terlanjur menyebar.
Stigma sosial sering kali datang lebih cepat daripada putusan pengadilan. Keluarga besarnya di rumah ikut merasakan dampaknya dan harus menjawab pertanyaan tetangga. Keluarga mereka menghadapi tekanan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.
Ketika Kasus Rumah Tangga Menjadi Ranah Hukum
Perselisihan antara majikan dan pengasuh sejatinya bukan hal baru. Namun ketika ia masuk ke jalur hukum, persoalan menjadi jauh lebih kompleks.
Ada relasi kuasa, ada emosi, ada tafsir tentang kekerasan. Ada pula ruang pembelaan yang sering kali tidak seimbang.
Apakah yang terjadi benar sebuah tindakan kekerasan?
Ataukah kesalahpahaman dalam situasi pengasuhan?
Semua itu kini menjadi bagian dari proses pembuktian di meja hukum. Menunggu Keadilan Bekerja. Kini perkara itu berada di tangan Kejaksaan Negeri Kota Bengkulu.
Tahapan berikutnya akan menentukan kasus ini berlanjut ke persidangan, menghadirkan saksi-saksi, menghadirkan fakta-fakta, dan pada akhirnya menghadirkan putusan.
Bagi publik, ini mungkin hanya satu dari sekian banyak berita. Namun bagi dua perempuan yang berada di pusaran peristiwa, ini adalah soal hidup, martabat, dan masa depan.
Satu memperjuangkan rasa aman bagi anaknya. Satu lagi memperjuangkan nama baik dan keberlangsungan hidup keluarganya.
Lebih dari Sekadar Kasus
Kisah ini bukan semata tentang dugaan cubitan. Ia berbicara tentang relasi sosial, tentang kerentanan pekerja domestik, tentang bagaimana hukum menyentuh ruang paling privat dalam kehidupan manusia.
Dan di tengah semua itu, ada pertanyaan yang terus menggantung?
Mampukah keadilan hadir tanpa memihak. Meski mereka datang dari dunia yang berbeda?
Waktu yang akan menjawab.
(***)
