Tulungagung Bertransformasi Jadi “Kota Seribu Kedai Kopi”, Magnet Baru Anak Muda dan Penggerak Ekonomi Kreatif

Tulungagung, Word Pers Indonesia – Kabupaten Tulungagung yang selama ini identik dengan industri marmer, kini menjelma menjadi pusat gaya hidup baru di selatan Jawa Timur. Dalam beberapa tahun terakhir, gelombang pertumbuhan kedai kopi modern mengubah wajah kota ini menjadi ruang pertemuan kreatif generasi muda.

Fenomena menjamurnya coffee shop tak lagi sekadar tren sesaat. Ia berkembang menjadi ekosistem sosial dan ekonomi yang hidup—menggabungkan budaya nongkrong, produktivitas, hingga panggung ekspresi anak muda.

Ledakan Kedai Kopi, Dari Pusat Kota Hingga Pinggiran

Pantauan di lapangan menunjukkan, kedai kopi tumbuh hampir di setiap sudut kota. Mulai dari kawasan pusat kota hingga kecamatan pinggiran, konsep yang ditawarkan beragam—industrial minimalis, vintage klasik, hingga nuansa tradisional Jawa yang hangat.

“Sekarang hampir tiap minggu ada tempat ngopi baru. Nongkrong bukan cuma buat santai, tapi juga diskusi tugas, meeting kecil, atau sekadar cari ide,” ujar Rani (21), mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Tulungagung, Minggu (15/2/2026).

Bagi generasi milenial dan Gen Z, kedai kopi telah bergeser fungsi. Ia bukan hanya tempat menikmati minuman, melainkan ruang interaksi sosial yang fleksibel—bahkan menjadi alternatif ruang kerja informal.

Instagramable dan Adaptif dengan Selera Pasar

Pemilik usaha membaca perubahan pola konsumsi anak muda. Desain interior dibuat estetis dan “Instagramable”, lengkap dengan sudut foto menarik yang mendukung eksistensi di media sosial.

“Anak muda sekarang butuh tempat yang nyaman sekaligus punya karakter. Karena itu kami fokus di konsep dan pengalaman pelanggan,” ungkap Budi, pemilik salah satu kedai kopi di pusat kota Tulungagung.

Persaingan ketat mendorong inovasi menu. Selain espresso, latte, dan cappuccino, sejumlah kafe menghadirkan racikan signature berbasis biji kopi lokal. Minuman non-kopi hingga menu makanan ringan dan berat juga menjadi strategi memperluas pasar.

BACA JUGA:  Tarung Derajat Simeulue Raih Tiga Emas Satu Perak Dan Satu Perunggu di Ajang POPDA Aceh

“Kami tetap mengutamakan kualitas biji kopi lokal. Harganya harus ramah pelajar, tapi rasa tetap premium,” tambah Budi.

Lebih dari Nongkrong: Ruang Kolaborasi dan Ekspresi

Yang menarik, sejumlah kedai kopi di Tulungagung bertransformasi menjadi ruang kreatif. Mereka rutin menggelar live music, pameran seni mini, diskusi komunitas, workshop, hingga stand-up comedy.

“Saya sering ikut open mic di kafe sini. Ini ruang aman buat berekspresi dan bangun jaringan,” kata Arya, pegiat seni lokal.

Kehadiran coffee shop sebagai ruang kolaborasi memperlihatkan bagaimana sektor UMKM mampu bersinergi dengan ekonomi kreatif. Aktivitas ini tidak hanya menggerakkan transaksi harian, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru dan peluang usaha turunan.

Magnet Ekonomi Baru di Selatan Jawa Timur

Transformasi Tulungagung menjadi “Kota Seribu Kedai Kopi” menunjukkan pergeseran identitas daerah. Jika dulu dikenal lewat komoditas marmer, kini kota ini mulai dikenal sebagai destinasi nongkrong dan kreatif anak muda.

Fenomena ini sekaligus menegaskan bahwa kota kabupaten pun mampu menjadi episentrum tren gaya hidup, selama pelaku usaha peka terhadap kebutuhan pasar dan berani berinovasi.

Denyut sosial dan ekonomi Tulungagung kini terasa berbeda—lebih dinamis, lebih kreatif, dan lebih inklusif bagi generasi muda.

Reporter: Agris
Editor: Anasril

banner 2000x647

Jangan Lewatkan