BENGKULU — Anggota DPD RI/MPR RI daerah pemilihan Bengkulu, apt. Hj. Destita Khairilisani, S.Farm., M.S.M., mengajak siswa berkebutuhan khusus mengamalkan nilai-nilai Pancasila melalui tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI Tahap VII Tahun 2026 di Lapangan SLB Negeri 1 Kota Bengkulu, 2 Oktober 2026.
Dalam kegiatan itu, Destita memperkenalkan empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika. Materi disampaikan secara interaktif dengan bahasa yang mudah dipahami agar siswa dapat mengenal nilai persatuan, gotong royong, toleransi, dan cinta tanah air.
Sesi tanya jawab menjadi salah satu bagian kegiatan yang menarik perhatian peserta. Sejumlah siswa, yakni Fadillah, Syifa, dan Rista, menyampaikan pertanyaan tentang cara menjaga keutuhan NKRI, penerapan Pancasila di sekolah, serta makna Bhinneka Tunggal Ika bagi siswa berkebutuhan khusus.
Menjawab pertanyaan Fadillah tentang cara menjaga NKRI di tengah keterbatasan, Destita menjelaskan bahwa setiap orang dapat berkontribusi melalui tindakan sederhana. Ia mencontohkan sikap saling menyayangi, tidak membeda-bedakan teman, membantu orang lain yang mengalami kesulitan, serta rajin belajar dan berkarya sesuai kemampuan.
“Keterbatasan fisik bukan penghalang untuk menjadi benteng persatuan bangsa,” demikian pesan yang disampaikan Destita kepada para siswa.
Sementara itu, saat menjawab pertanyaan Syifa mengenai cara mengenalkan Pancasila kepada siswa berkebutuhan khusus, Destita menekankan pentingnya pembiasaan dan contoh nyata di lingkungan sekolah. Nilai-nilai Pancasila dapat diterapkan melalui doa bersama sebelum belajar, budaya antre dan berbagi, gotong royong merawat kelas, musyawarah memilih ketua kelas, serta perlakuan adil kepada seluruh siswa.
Kepada Rista yang bertanya tentang makna Bhinneka Tunggal Ika, Destita menjelaskan bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk saling melengkapi. Ia mengibaratkan siswa di SLB yang memiliki keunikan dan keistimewaan masing-masing, tetapi tetap menjadi bagian dari satu keluarga besar bangsa Indonesia.
Melalui kegiatan ini, Destita menegaskan pentingnya memberikan akses pendidikan kebangsaan kepada seluruh masyarakat, termasuk peserta didik berkebutuhan khusus. Penguatan wawasan kebangsaan perlu dilakukan dengan pendekatan inklusif, ramah anak, dan menyesuaikan kebutuhan peserta didik.
Kegiatan berlangsung tertib dan mendapat antusiasme dari siswa serta dewan guru SLB Negeri 1 Kota Bengkulu. Sosialisasi ini diharapkan mendorong para siswa tumbuh menjadi generasi yang percaya diri, mencintai tanah air, menghargai perbedaan, dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Reporter: Mb, Mus
Editor: Anasril





















