Si Kerdil Picik dan Bunga Rafflesia

Foto Model Oleh KPPL Bengkulu Utara
Foto Model Oleh KPPL Bengkulu Utara

Artikel Oleh Bagus Presiden Republik SLE

Bagian Satu: Si Kerdil Picik

Sering kali kita disuguhi kabar duka yang melanda banyak habitat Rafflesia di provinsi Bengkulu. Seperti pengrusakan bonggol-bonggol Rafflesia ataupun inang-inang tempat tumbuh bunga langka tersebut yang terjadi di Kepahiang dan Mukomuko baru-baru ini.

Kejadian seringnya habitat Rafflesia di provinsi Bengkulu dirusak oleh oknum-oknum bertangan jahat haruslah jadi PR bagi pemerintah. Terutama dinas terkait.

Menurut beberapa sumber yang penulis tanya di hampir semua kabupaten dalam provinsi Bengkulu, penyebab dari tindakan ini disebabkan oleh empat hal.

Pertama, ketakutan pemilik kebun yang berada dalam wilayah hutan lindung. Takut kegiatan mereka diketahui oleh petugas kehutanan.

Kedua, adanya pemikiran bahwa KPPL, (sebuah komunitas yang peduli dengan keberlangsungan bunga nasional tersebut) setempat menghasilkan uang dari Rafflesia yang mekar.

Di beberapa wilayah pemikiran picik ini selain dari masyarakat, justru lahir dari pemerintah desa ataupun kecamatan yang seharusnya mendukung kegiatan pelestarian Rafflesia.

Mereka akan mendapatkan keuntungan dari peristiwa yang istimewa ini. Nama desa dan kecamatan mereka menjadi terkenal dan ada perputaran ekonomi untuk masyarakatnya.

Sedangkan dari KPPL mereka mendapatkan keuntungan berupa promosi gratis di banyak media sosial.

Bagi kawan-kawan KPPL sendiri tidak mendapatkan apapun dari mekarnya Rafflesia tersebut, selain dari tersalurnya hobi menjelajah hutan. Malah mereka mengeluarkan dana pribadi untuk survey, hingga mempromosikan.

Sedangkan bagi daerah yang memiliki habitat Rafflesia, sejak itu mata dunia akan tertuju pada wilayah kerja mereka. Termasuk juga jika terjadi pengrusakan.

Ketiga, kurangnya pemahaman dan pengetahuan masyarakat terhadap pentingnya kelestarian salah satu dari puspa langka ini.

Di sinilah peran pemerintah terutama instansi yang membidangi ini diperlukan. Sedangkan KPPL hanyalah komunitas yang kekuasaannya sangat terbatas.

Kerjasama mereka dan saling dukung akan mempertahankan Rafflesia dari kepunahan.

Keempat, banyak orang dan banyak pihak tidak mau KPPL dan orang-orang di dalamnya menjadi terkenal.

Mereka mengabaikan siapa saja yang ada di dalam KPPL. Hampir seluruh anggota KPPL sudah terkenal lebih dahulu dengan semua kegiatan yang mereka miliki, termasuk para junior.

Pikiran-pikiran yang mengkerdilkan mereka sendiri ini harusnya sudah musnah, seiring dengan perkembangan jaman. Atau mereka hanya mampu hidup dalam sebuah tempurung?

Bunga Rafflesia Foto Dok Oleh Bujang Palala
Bunga Rafflesia Mekar Foto Dok Oleh Bujang Palala

Bagian dua: Mekarnya si Kemumuensis

Bengkulu Utara, khusunya masyarakat desa Tebing Kaning dan sekitarnya bekerja sama dengan komunitas KPPL (Komunitas Peduli Puspa Langka) setempat mampu mempertahankan Rafflesia milik mereka hingga mekar..

Sikap luar biasa seperti ini patutlah kita acungi jempol buat mereka. Pemerintah daerah haruslah memberikan perhatian lebih kepada orang-orang seperti ini, ataupun wilayah lain yang memiliki habitat Rafflesia. Supaya maskot daerah dan provinsi ini tetap terjaga kelestariannya dan meningkatkan perekonomian bagi masyarakat.

Tepat sehari sebelum lebaran, Rabu 12 Mei 2021, Tebing Kaning mempersembahkan mekarnya sekuntum bunga Rafflesia jenis Kemumuensis. Jenis khas hanya milik Bengkulu Utara. Diperkirakan akan tetap memberikan pesona keindahannya hingga lima hari ke depan. Memiliki diameter kurang lebih 45 cm.

Pengunjung akan disuguhi pesona hutan ketika berjalan kaki dari tempat parkir kurang lebih 20-30menit dari desa Tebing Kaning yang masuk dalam kecamatan Arma Jaya, kabupaten Bengkulu Utara.

Dari kota Bengkulu bisa ditempuh kurang dari 2 jam, sebelum mencapai titik lokasi.

Kali ini si ‘cawan sirih Puyang’ mekar menggantung kurang lebih 1 meter dari permukaan tanah. Peristiwa ini sangat istimewa karena jarang terjadi. Selama ini secara umum Rafflesia mekar di inangnya yang muncul dari tanah.

Untuk informasi lanjutan silahkan hubungi KPPL Bengkulu Utara. Di Instagram @kpplbu, @bujangpalala, @regj_sunandar, @emoy_amoy_art atau FB ‘Dani Umbara’.

Bagian Tiga: Prolog

Alam Bengkulu, bahkan dunia berharap, bahwa Rafflesia akan selalu ada hingga alam berakhir. Harapan besar Itu membutuhkan peran manusia yang memiliki akal, pikiran dan nurani.

Tidak selamanya kehidupan ini diukur dengan uang. Karena semua mahkluk hidup punya ruang dan peran masing-masing. Termasuk Rafflesia.

Sayangi alam. Maka alam akan memberikan segalanya untukmu. Kerakusanmu akan harta akan mengorbankan alam dan dirimu.

Selesai

Next Post

Tinjau Arus Mudik di Bandara, Kapolri Minta Perketat Pengawasan Warga dari Luar Negeri

Kam Mei 13 , 2021
TANGERANG, WORD PERS INDONESIA – Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo meminta kepada seluruh petugas di Bandara Soekarno Hatta (Soetta) untuk memperketat pengawasan bagi WNI dan WNA yang datang masuk ke Indonesia. Hal itu disampaikan Kapolri saat meninjau arus mudik di Bandara Soetta, Tangerang, Rabu (12/5/2021) bersama Ketua DPR RI […]
Kapolri saat meninjau arus mudik di Bandara Soetta, Tangerang, Rabu 12 Mei 2021 bersama Ketua DPR RI Puan Maharani