Air Terjun Batu Betiang, Siapakah Penyusun Batu-batu Tersebut?

Rejang Lebong, Wordpers.id – Tiba di lokasi hampir jam tiga sore. Sedangkan berangkat dari Bengkulu sekitar jam delapan pagi, setelah hujan lebat mengguyur pagi di hari sabtu kemaren (9 Januari 2020).

Menempuh perjalanan agak santai dengan mobil menuju Curup. Anggota empat orang ngobrol asyik selama perjalanan. Tiba di Curup sekitar jam 10 pagi. Cari sarapan. Sayangnya, mie celor yang kami tuju tidak buka, atau mungkin sudah tutup.

Di sebuah toko kelontong serba ada yang sudah jadi virus pembunuh warung tetangga di hampir seluruh wilayah Bengkulu, kami membeli persiapan bekal selama perjalanan dan untuk di lokasi air terjun.

Masuk jalan Simpang Lebong, kami mampir sarapan lontong.

Pemandu kami kali ini adalah bro Naldo, selain bergabung dengan anggota Basarnas, beliau juga bekerja di PMI, dan penakluk rimba raya. Pas sekali dengan kriteria yang kami inginkan untuk ke lokasi air terjun Batu Betiang. Mampir sebentar di rumah beliau.

Sekitar jam sebelas siang, kami melintasi jalan raya Curup – Lebong, menuju lokasi yang menurut bro Naldo, masih menyimpan aura mistik yang sangat kuat.

Sekitar 25 meter sebelum gerbang perbatasan Curup – Lebong, mobil kami berbelok ke kanan, masuk jalan aspal baru sempit yang hanya muat satu mobil. Tertera nama desa ‘Merasih’. Di ujung Desa, kami belok kiri.

Melintasi, (mestinya hutan lebat sebagai hutan lindung) kebun kopi warga di kiri kanan jalan. Kurang lebih 30 menit kemudian, kami sampai di ujung jalan aspal. Kami berhenti di sini.

Mampir sejenak di pondok kopi milik warga, ngobrol sebentar, pamit, lalu memulai perjalanan.

Sebelum berangkat, rombongan melakukan doa bersama, demi kelancaran perjalanan kami hari itu, dipimpin oleh bro Naldo.

Lewat sedikit jam 12, kami melangkah menyusuri jalan kecil, rintisan warga ke kebun milik mereka. Sepertinya tidak kurang dari 10 km jarak antara akhir jalan aspal hingga titik air terjun.

Semestinya jarak tersebut bisa dicapai dengan waktu sekitar 1,5 jam, jika ditempuh dengan langkah normal. Tapi kami menjalani hampir tiga jam. Bukan jarak itu yang menjauh, tapi langkah kami terhkendala oleh banyaknya jalan berlumpur dan licin.

Di sela-sela itu juga, setiap hal yang menarik perhatian, kami berhenti untuk pengambilan gambar, bahan untuk konten vlog. Maklum, 2 orang anggota tim adalah vloger, dan 1 orang sebagai bloger.

Tidak seperti jalur perjalanan biasanya, medan jalan yang kami tempuh adalah jalur yang nyaman ditempuh bila hari panas selama 3 hari. Jalannya datar. Mendaki cuma 2 kali. Itupun tidak ekstrim. Cuma harus hati-hati, karena jalan licin habis hujan.

Sempat 3 kali beristirahat sebelum masuk kawasan yang masih berhutan lindung. Di tandai dengan udara mulai lembab, pertanda air terjun yang akan kami tuju hampir dekat.

Aroma kembang kopi bercampur aroma lumpur atau humus hutan, menjadikan peru-paru ringan dalam menarik nafas. Segar dan melegakan.

Semakin masuk hutan, telinga kami mulai menangkap gemuruh air terjun di antar aliran air sungai yang kami susuri pinggirannya. Sekitar 10 menit kemudian, kami mulai menemukan balok-balok batu yang besar dan panjang. Ada juga batu-batu berbentuk kubus yang sangat besar. Lempengan-lempengan batu besar yang terdiri dari susunan lempengan-lempengan batu tipis. Semakin lama semakin banyak.

Begitu sampai lokasi air terjun, wowww…. Mata benar-benar terpana melihat balok-balok batu berdiri tegak menjulang sekeliling air terjun yang membentuk kolam di bawahnya.

Air terjunnya biasa saja. Tapi tiang-tiang batu bersusun rapi dan kuat, itulah keistimewaan tempat ini. Saya penasaran dengan susunan batu-batu ini. Apa lagi melihat beberapa batu, ada ceruk-ceruk seolah sebagai kuncian bagi batu pasangannya. Dan setelah diamati, ternyata itu benar!

Menyusuri setiap sisi dinding batu yang tersusun sangat rapi, bagai sudah disetel oleh tukang yang sangat profesional., saya memperhatikan tiap-tiap celah batu.

Dokumen Sle

Susunan bebatuan

Ini benar-benar menakjubkan. Rapi, presisi, dan artistik. Setiap celah hampir sama rata jaraknya. Bagian paling pendek berada di bagian paling depan, menahan bagian berikutnya yang sedikit agak tinggi. Yang agak tinggi ini menahan tiang balok batu yang sangat tinggi menjulang. Di atasnya ditumbuhi oleh pohon-pohon besar yang juga tinggi menjulang.

Menurut cerita masyarakat sekitar, pada jaman antah berantah dahulu kala, di sini ada istana. Entah istana apa dan siapa. Lupa menanyakannya, hehe

Di sela-sela obrolan, tercetus candaan, “Jangan-jangan wilayah ini masuk dalam wilayah pemerintahan Raja sekaligus Nabi Sulaiman. Seperti itu juga candi Borobudur di Jawa Tengah sana.”

Melihat struktur dan susunan bebatuan dalam area air terjun ini, wajar jika akhirnya ada yang berpendapat, cuma manusia yang dapat memerintah pasukan jin saja yang bisa melakukan hal seperti “membangun” ‘kolam pemandian’ air terjun Batu Betiang yang sangat menakjubkan ini.

Disarankan bagi pengunjung, jika ingin mandi, jangan di ‘kolam’ air dalam lingkaran pilar-pilar batu. Karena, selain lubuk nya dalam, juga arus air yang memutar sangat membahayakan keselamatan anda.

Jika ingin menyusuri dinding batu, gunakan sepatu khusus yang bisa mengatasi permukaan batu yang sangat licin karena dilapisi oleh lumut tipis dan basah. Lebih disarankan lagi, jangan lanjutkan langkah perayapan dinding batu itu, jika ada keraguan ataupun kebimbangan. Jangan abaikan pertimbangan alam bawah sadar anda. Hawa mistik di sini masih sangat kuat, dan kolam air terjun di bawah tubuh anda sudah banyak memakan korban.

Lepas dari kemiskinan, percayalah, ajal dan balak di tangan Allah SWT, dan jangan lupakan juga, selain dunia yang nyata, ada juga dunia gaib yang Maha Pencipta ciptakan.

Puas menikmati keagungan ciptaan Tuhan di area air terjun ini? Sebelum pulang jangan tinggalkan ‘mantan’ anda di sini. Jangan kotori alam yang masih bersih ini dengan tingkah anda yang semena-mena meninggalkan sisa-sisa bungkus nasi ataupun botol minuman di sini.

 82 total views

Post Author: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.