SELUMA, WORDPERS.ID – Upaya menekan biaya panen dan meningkatkan efisiensi usaha tani padi di Kabupaten Seluma mendapat dukungan melalui bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) berupa combine harvester dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Bengkulu.
Bantuan tersebut diberikan kepada Kelompok Tani Karya Mukti setelah melalui proses pengajuan proposal dan verifikasi Bank Indonesia. Dinas Pertanian Kabupaten Seluma turut berperan dalam mendukung pemanfaatan bantuan itu agar dapat menunjang produktivitas petani di lapangan.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Seluma, Arian Sosial, mengatakan bantuan tersebut berawal dari pengajuan proposal kelompok tani kepada Bank Indonesia. Setelah melewati tahapan verifikasi, Kelompok Tani Karya Mukti ditetapkan sebagai penerima bantuan.
“Berdasarkan hasil verifikasi Bank Indonesia, Kelompok Tani Karya Mukti terpilih sebagai penerima bantuan setelah sebelumnya mengajukan proposal. Bantuan ini diharapkan dapat mendukung peningkatan efektivitas dan efisiensi kegiatan panen petani,” ujar Arian Sosial.
Menurut Arian, keberadaan combine harvester diharapkan menjadi solusi untuk mempercepat proses pemanenan sekaligus menekan biaya operasional yang selama ini harus ditanggung petani.
Ia menjelaskan, penggunaan mesin tersebut memungkinkan proses panen berlangsung lebih cepat dibandingkan metode manual. Dengan demikian, petani memiliki peluang untuk menghemat waktu dan mengoptimalkan pelaksanaan panen, terutama ketika harus menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu.
“Dengan menggunakan mesin ini, satu hektare sawah diperkirakan dapat dipanen dalam waktu sekitar satu hingga tiga jam. Tentu ini lebih efektif dan efisien dibandingkan panen secara manual,” jelasnya.
Arian juga mengungkapkan bahwa kegiatan panen raya yang berlangsung di wilayah tersebut murni diinisiasi oleh para petani sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh, meskipun mereka menghadapi kondisi cuaca panas atau kemarau.
Atas inisiatif tersebut, para petani mengundang kepala daerah, Dinas Pertanian, anggota DPD RI, serta pihak terkait lainnya untuk menghadiri kegiatan panen raya sekaligus menyaksikan penyerahan bantuan alsintan.
Momentum tersebut diharapkan tidak berhenti sebatas seremoni penyerahan bantuan. Lebih dari itu, keberadaan mesin panen harus memberikan manfaat nyata bagi kelompok tani, terutama dalam memperbaiki efisiensi biaya dan waktu kerja.
Arian mengingatkan agar kelompok tani penerima bantuan menjaga serta merawat mesin dengan baik sehingga dapat digunakan secara optimal dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
“Harapan kami, bantuan ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh kelompok tani. Alatnya harus dijaga dan dirawat agar bisa digunakan dalam jangka panjang serta membantu petani meningkatkan efisiensi panen,” tegasnya.
Dukungan Bank Indonesia terhadap sektor pertanian tidak hanya terbatas pada bantuan combine harvester di Kabupaten Seluma. KPw BI Provinsi Bengkulu juga menyalurkan berbagai sarana produksi pertanian untuk mendukung peningkatan produktivitas di Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kabupaten Mukomuko.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, mengatakan penguatan kapasitas produksi pertanian merupakan bagian dari upaya mendorong produktivitas sekaligus menjaga ketersediaan pasokan pangan.
Selain combine harvester, bantuan alsintan yang diberikan mencakup traktor besar, traktor tangan (hand tractor), dan kultivator. Peralatan tersebut diarahkan untuk mendukung pengolahan lahan serta kegiatan budidaya tanaman pangan dan hortikultura, termasuk padi, cabai, dan bawang merah.
“Penguatan sektor pertanian memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan pasokan pangan. Peningkatan produktivitas dan efisiensi produksi diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus mendukung stabilitas harga komoditas pangan,” ujarnya.
Pemanfaatan mekanisasi pertanian dinilai dapat membantu petani menghadapi tantangan biaya produksi, keterbatasan tenaga kerja, dan kebutuhan mempercepat proses panen. Namun, hasilnya tetap bergantung pada pemanfaatan alat, kesiapan operator, serta pengelolaan bantuan oleh kelompok tani.
Selain memperkuat proses produksi di lahan pertanian, BI Bengkulu turut mendorong peningkatan nilai tambah melalui pengembangan sarana pengolahan dan hilirisasi produk, termasuk komoditas kopi.
Dukungan berupa mesin colour sorter dan mesin roasting diharapkan membantu pelaku usaha meningkatkan kualitas pengolahan kopi. Mesin colour sorter digunakan untuk memilah biji berdasarkan karakteristik warna, sedangkan mesin roasting berfungsi menyangrai biji kopi menjadi produk olahan yang siap dipasarkan.
“Melalui penguatan hilirisasi, hasil pertanian tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Langkah ini diharapkan membuka peluang usaha, memperluas akses pasar, serta meningkatkan daya saing produk lokal Bengkulu,” jelas Wahyu.
Langkah tersebut menjadi penting agar hasil pertanian tidak hanya bergantung pada penjualan bahan mentah. Pengolahan yang lebih baik dapat membuka peluang peningkatan nilai jual, meskipun keberhasilannya tetap memerlukan standar mutu, pengelolaan usaha, dan akses pasar yang memadai.
Upaya pemberdayaan ekonomi juga dilakukan melalui dukungan terhadap wakaf produktif yang diarahkan pada kegiatan usaha, seperti budidaya ayam petelur, pengembangan buah dan sayuran, serta penanaman cabai merah.
Program tersebut diharapkan menjadi salah satu instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pengelolaan aset dan kegiatan usaha yang berkelanjutan. Selain berpotensi membuka sumber pendapatan, usaha produktif juga dapat mendukung ketersediaan pangan dan aktivitas ekonomi lokal.
Wahyu menegaskan, berbagai dukungan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat sektor pertanian, mulai dari peningkatan produktivitas dan efisiensi panen hingga pengembangan produk olahan serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Sinergi antara Bank Indonesia, Dinas Pertanian, kelompok tani, dan pemangku kepentingan lainnya diharapkan mampu memperkuat sektor pertanian Bengkulu.
Pada akhirnya, keberhasilan bantuan alsintan tidak hanya diukur dari jumlah peralatan yang disalurkan, tetapi juga dari sejauh mana alat tersebut benar-benar digunakan, dirawat, dan mampu membantu petani mengurangi beban biaya produksi serta meningkatkan hasil usaha tani.
reporter: jhon
editor: Anasril
