Plt Bupati Tulungagung Turun Langsung, Fatayat NU Hidupkan Tradisi di Tengah Gempuran Digital

Tulungagung, Word Pers Indonesia — Lapangan GOR Lembu Peteng berubah wajah, Minggu (3/5/2026). Ribuan kader Fatayat NU tumpah ruah, bukan sekadar senam sehat, tapi menghidupkan kembali denyut permainan tradisional yang mulai tergerus zaman. Dampaknya terasa: ruang kebersamaan menguat, budaya lokal diangkat kembali, dan pesan gaya hidup sehat digaungkan langsung di tengah masyarakat.

Kegiatan yang dikemas dalam Senam Sehat dan Festival Permainan Tradisional ini menjadi panggung kolaborasi antara organisasi perempuan muda Nahdlatul Ulama dengan pemerintah daerah. Di tengah arus digital yang makin agresif, acara ini justru menarik perhatian karena menghadirkan sesuatu yang mulai langka—interaksi sosial tanpa layar.

Ketua panitia, Arista Dwi Saputri, menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremonial. “Kami ingin kader Fatayat tidak hanya aktif secara organisasi, tapi juga sehat dan solid. Ini ruang memperkuat kebersamaan,” ujarnya di sela kegiatan.

Namun sorotan utama bukan hanya pada senam massal. Festival permainan tradisional menjadi magnet tersendiri. Beragam lomba khas daerah yang dulu akrab di lingkungan kampung kembali dimainkan. Tawa, sorak, dan semangat kompetisi sederhana menggantikan sunyinya interaksi yang sering tersita gawai.

Plt. Bupati Tulungagung, Ahmad Baharudin, hadir langsung dan memberi sinyal dukungan terhadap gerakan ini. Ia melihat kegiatan semacam ini bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari pembangunan sosial.

“Kegiatan seperti ini penting. Bukan hanya soal sehat, tapi juga menjaga budaya kita agar tidak hilang,” tegasnya, usai melepas balon sebagai tanda dimulainya acara.

Kehadiran tokoh-tokoh daerah, termasuk unsur PCNU Tulungagung dan badan otonom seperti GP Ansor, mempertegas bahwa kegiatan ini bukan agenda biasa. Ini gerakan bersama.

Di balik kemeriahan, ada pesan yang lebih dalam. Ketika permainan tradisional mulai ditinggalkan, identitas budaya perlahan ikut memudar. Fatayat NU mencoba membalik arah menarik generasi muda kembali mengenal akar budaya mereka.

BACA JUGA:  Ironi Petani di Negeri Agraris Seluma, Pupuk Subsidi Langka, Harga Naik 40 Persen!

Fenomena ini muncul karena kegelisahan yang nyata. Generasi muda semakin jauh dari interaksi sosial langsung, tergantikan oleh dunia digital yang serba instan. Permainan tradisional yang dulu menjadi sarana pembentukan karakter kini nyaris hilang. Kegiatan seperti ini menjadi semacam “perlawanan kultural” upaya menjaga identitas sekaligus memperkuat kohesi sosial. Namun tantangannya besar: tanpa kesinambungan, acara seperti ini berisiko hanya jadi euforia sesaat.

Acara selesai, tawa masih tersisa, dan pesan sudah tersampaikan.

Pertanyaannya, apakah gerakan seperti ini akan terus dijaga, atau kembali tenggelam di tengah derasnya arus digital yang tak terbendung?

Reporter: Agris
Editor: ANasril

Posting Terkait

Jangan Lewatkan