Bengkulu, Word Pers Indonesia — Menginjak usia 50 tahun, Wakil Wali Kota Bengkulu periode 2018–2023, Dedy Wahyudi atau yang akrab disapa Bang DEWA, menandai fase emas perjalanan hidupnya. Bukan sekadar perayaan bertambahnya usia, melainkan momentum refleksi atas transformasi besar dari dunia jurnalistik ke panggung birokrasi.
Dari Ruang Redaksi Menuju Balai Kota, Karier panjang Bang Dewa sebagai wartawan dan pemimpin media di Bengkulu, termasuk di RBTV, telah menanamkan karakter khas yang sulit dipisahkan: insting jurnalis yang tajam dan peka pada suara rakyat.
“Kita tidak boleh jauh dari masyarakat. Pemimpin itu harus mendengar langsung, bukan menunggu laporan yang disaring-saring,” ujar Bang DEWA dalam beberapa kesempatan saat ditanya Redaksi ini.
Kecepatan merespons isu publik, keterbukaan komunikasi, dan kedekatannya dengan warga mencerminkan kultur jurnalistik yang tetap melekat. Ia bukan tipe pejabat yang berjarak; sering turun langsung, membuka ruang diskusi, hingga menggunakan media sosial sebagai kanal komunikasi dua arah dengan warga.
Berawal Dari Pengkritik Menjadi Eksekutor Kebijakan, Perjalanan dari kursi pengawas kebijakan ke posisi pembuat kebijakan tentu bukan proses mudah. Jika dulu ia berdiri di garda depan sebagai penyampai kritik, kini ia adalah pihak yang harus memberi jawaban lewat kerja nyata.
“Jurnalis itu belajar melihat masalah dari dekat. Itu bekal penting saat saya harus mengambil keputusan untuk kepentingan publik,” pesannya pada kami selaku wartawan yang masih umur muda terjun di lapangan.
Pengalamannya mengawal isu masyarakat membuatnya paham kebutuhan warga bukan sekadar seremonial atau pencitraan.
Mulai dari persoalan banjir, pembangunan infrastruktur, peningkatan layanan publik, hingga program sosial berbasis empati, ia dikenal sebagai pejabat yang bergerak cepat dan tak menunggu perintah.
Kedekatan dengan Emak-Emak dan Milenial
Sosok Dewa bukan hanya dikenal di kantor pemerintahan, tetapi juga di jalanan kota. Ke mana pun ia hadir—acara suka maupun duka selalu disambut meriah, terutama oleh kaum emak-emak dan generasi muda. Kamera ponsel mengarah, sorak ceria terdengar, dan warga berebut berfoto.
Fenomena ini menunjukkan satu hal bahwa sosok Bang DEWA (Walikota Bengkulu) memiliki magnet sosial yang tidak dibangun lewat pencitraan, tetapi lewat konsistensi hadir dan respons cepat.
Di kalangan jurnalis, ia juga dikenal sebagai pejabat yang tidak alergi kritik.
“Kalau ada kritik, kita bicarakan. Pemerintah harus mau introspeksi, termasuk saya sendiri,” begitu kata Bang DEWA saat menanggapi pesan kritik media.
Hal ini membuat relasi pemerintah dan media menjadi lebih sehat, dinamis, dan produktif.
Memasuki usia setengah abad, Masyarakat tentu menaruh harapan besar. Usia 50 dianggap sebagai fase kebijaksanaan. Dalam usia ini, setiap keputusan memiliki dampak yang lebih luas bagi ribuan warga.
Bang DEWA diharapkan terus membawa semangat keterbukaan, mempertahankan ruh kebebasan pers yang membesarkannya, serta tetap menjadikan kritik sebagai vitamin untuk membangun kota yang lebih baik.
Dari perjalanan panjang yang dimulai dari ruang redaksi hingga ruang rapat pemerintahan, Bang DEWA telah menunjukkan bahwa seorang jurnalis bisa menjadi pemimpin publik yang adaptif, responsif, dan berpihak pada warga.
Selamat ulang tahun ke-50, Bang DEWA. Semoga usia emas ini menjadi pijakan untuk melangkah lebih jauh membawa kemajuan Kota Bengkulu.
Editor: Agus.A































