Fitrah Manusia Sebagai Hamba Allah

Berbicara tentang makhluk Allah yang bernama manusia tidak akan selesai selama roda kehidupan Alam besar yang biasa dalam istilah ilmiah makrokosmos dan Alam kecil atau mikrokosmos yang tidak lain manusia itu sendiri masih berputar.

Secara etimologis istilah manusia di dalam al-Quran ada empat kata yang dipergunakan sebagaimana dikutip M. Hamdani Bakran Adz-dzaky ” Konseling dan Psikoterapi Islam, 2004, ” yakni :

1. Ins, Insan dan Unas.

Kata-kata “Insan” diambil dari asal kata “Uns” yang mempunyai arti jinak, tidak liar, senang hati, tampak atau terlihat, al-Quran Surah At Tiin ayat 4u Allah Swt berfirman:

Artinya:” Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia didalam sebaik-baiknya bentuk”. Kesempurnaan manusia itu dapat kita lihat pada asal kata “Ins” berarti seorang manusia, sedang “Insani” itu tersirat makna manusia mempunyai dua unsur kemanusiaannya, aspek lahiriah dan bathiniah. Kata “Ins” dapat dilihat pada Al-Quran Surah Adz-Dzariat ayat 56 yang artinya:”Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah(Kepada-Ku)”. Dan menunjukkan kata “Unas” dapat dilihat pada surah Al-A’raf ayat 82 yang artinya:”Sesungguhnya mereka orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri”.

2. Basyar.

Kata ini berasal dari makna kulit luar yang dapat dilihat dengan mata kasar, bersifat indah dan cantik. Dan dapat menimbulkan rasa senang, bahagia dan gembira bagi siapa saja yang melihatnya. Firman Allah Swt di dalam Al-Quran Surah Ali Imran ayat 79 yang artinya :” Tidaklah patut bagi seorang manusia yang Allah telah memberikan kepadanya Al-Kitab, hikmah dan kenabian. Lalu ia berkata kepada manusia:” Hendaklah kamu menjadi pengabdi-pengabdi Allah, tetapi hendaklah kami menjadi orang-orang yang bersifat ketuhanan, sebab kamu senantiasa mengajarkan Al-Kitab lagi senantiasa mempelajarinya”.

3. Bani Adam.

Arti “Bani Adam” ialah anak adam atau putera Nabi Adam, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Quran Surah Al-A’raaf ayat 27 yang artinya :”Wahai anak Adam janganlah syetan itu benar-benar dapat menipumu, sebagaimana kedua orang tuamu telah ia dikeluarkan dari Surga…”.

4. Dzurriyat Adam.

Al-Quran Surah Maryam ayat 58 Allah Swt berfirman yang artinya:” Mereka itu adalah orang-orang yang telah memberikan kenikmatan kepada mereka, yakni para Nabi yang berasal dari keturunan Adam dan sebagian orang-orang yang kami telah angkat bersama Nuh”.

Dari beberapa defenisi tersebut sangat jelas memberikan indikasi bahwa manusia fitrahnya adalah hamba Allah yang mempunyai tugas menebarkan kemaslahatan dan kebaikan untuk menatakelola serta mengawal hukum-hukum Allah yang essensialnya adalah pengabdian.

Dalam rangkab mengejawantahkan pengabdian tersebut keadaan hamba mengalami beberapa level-level keadaan sebagaimana diterangkan “Ibn Athaillah dalam Karyanya ” Latha-iful Minan”, terjemah, 2015 yakni:

a. Nikmat.
Seorang hamba menerima nikmat dari Allah yang mengharuskan untuk selalu bersyukur.

b. Cobaan.
Untuk mengukur derajat keimanan dan integritas penghambaan tentunya ada cobaan yang dihadapi dituntut untuk bersabar dalam menjalaninya.

c. Taat.
Taat tentunya identitas yang harus ditunjukkan dihadapan Allah Swt maka saksikanlah anugerah-Nya.

d. Maksiat.
Seorang hamba tidak ada yang menjalani pendakian kepada Allah menempuh jalan yang mulus terkadang terjadi deviasi(penyimpangan) yang melahirkan kotoran-kotoran dalam lumpur maksiat yang menjadi dinding antara hamba dengan Tuhan-Nya perlu dilakukan tobat nasuha untuk mengembalikan kesucian dalam beribadah kepada sang khalik pemilik kehidupan.

Apabila manusia mampu melakukan quantum keadaan yang dialami, kembali “Ibn Athaillah” memberikan pencerahan bahwa jalan menuju puncak ketinggian ruhani tidaklah gampang, bayarannya pun teramat mahal, ada metode yang beliau sampaikan yaitu:

a. Mengendalikan hawa nafsu.
b. Beribadah pada malam hari beramal setiap saat untuk memperoleh ridha Allah.
c. Berpuasa pada siang hari.

Metode yang beliau sampaikan merupakan lubab pengabdian seorang hamba dimulai pengendalian hawa nafsu jahat yang mentransformasi fitrah kehambaan menjadi kedurhakaan perlu katalisator iman yang kuat untuk menjadi nafsu yang muthmainnah yang nantinya kembali kepada Allah Swt.

Waktu malam yang hening hanya berteman dengan dinginnya udara malam dan sapaan sang waktu mampu menempa sang hamba bersujud dibawah kebesaran dan kemuliaan Allah dan pengakuan kehinaan dan rendahnya diri tidak ada daya yang memberikan kemuliaan kecuali pemilik kemuliaan.

Berpuasa adalah benteng ruhani untuk menata diri menuju akhlakul karimah sehingga sang hamba selalu dekat dan bersama Allah yang menjadi tujuan akhir kehidupan.

Mari kita renungkan apa makna diri kita sebagai hamba Allah sudahkan memberikan yang terbaik dalam pengabdian, rasanya tak mampu ibadah kita membayar besarnya anugerah yang telah diberika kepada kita. Apalagi kita masih berada pada masa pandemi covid-19 yang masih melanda dunia, negara kita dan kampung halaman dimana kita berada. Hanya ikhtiar yang telah dilakukan teriring munajat dalam doa selalu dimohonkan kepada Allah semoga Wabah ini menjadi hikmah, tabsyir dan indzar bagi para hamba Allah. Wallahu a’lam bissawab.

(H. Ahmad Sya’rani, M.Ag.
Kasi Bimas Kemenag Kota
Banjarmasin).

 31 total views

Post Author: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.