Mukomuko, Word Pers Indonesia – Gaung program Mukomuko Bebas Sampah Setiap Hari yang dicanangkan Bupati Mukomuko, H. Choirul Huda, kini mendapat sorotan tajam. Pasalnya, di tengah kampanye kebersihan lingkungan dan peluncuran aplikasi pengawasan sampah, kondisi Sungai Air Dikit di Kecamatan Penarik justru dikeluhkan warga akibat tumpukan sampah yang diduga terus dibuang ke aliran sungai.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan serius mengenai efektivitas pelaksanaan program pemerintah daerah hingga ke tingkat desa. Sebab, keberhasilan gerakan kebersihan tidak cukup diukur dari seremoni peluncuran maupun aplikasi digital, tetapi harus terlihat dari perubahan nyata di lingkungan masyarakat.
Salah satu titik yang menjadi sorotan adalah kawasan Jembatan Penarik. Sampah plastik, kantong bekas, karung, hingga sisa makanan dilaporkan menumpuk dan tersangkut di sekitar besi pembatas jembatan.
Ketua LSM Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Kabupaten Mukomuko, Salman Alfarizi, menilai kondisi tersebut tidak boleh terus dibiarkan. Ia meminta pemerintah daerah dan pemerintah desa mengambil langkah konkret untuk menghentikan kebiasaan membuang sampah ke sungai.
“Betapa tidak, oknum warga masih melakukan kebiasaan buruk dengan membuang sampah plastik serta sampah lainnya ke aliran Sungai Air Dikit dari atas Jembatan Penarik,” ungkap Salman.
Menurutnya, persoalan pencemaran di kawasan tersebut bukan kejadian baru. Kebiasaan membuang sampah ke sungai disebut telah berlangsung cukup lama, sementara pengawasan dan penindakan dinilai belum memberikan efek jera.
“Ini sudah bukan lagi soal tidak tahu. Ini sudah berlangsung lama dan dibiarkan. Kalau tidak ada penindakan, sampai kapan pun tidak akan berubah. Pelakunya harus diberi efek jera!” tegasnya.
Ironisnya, kawasan Jembatan Penarik merupakan salah satu titik aktivitas ekonomi masyarakat. Berbagai usaha tumbuh di sekitar lokasi tersebut, mulai dari bengkel, toko pakaian, perbankan, toko bangunan, elektronik, dealer kendaraan hingga pedagang makanan.
Namun, geliat ekonomi itu berhadapan dengan persoalan kebersihan lingkungan yang belum tertangani secara optimal.
Padahal, imbauan bertuliskan “Jangan Kotori Sungai Kita” telah terpasang di sekitar pangkal jembatan. Sayangnya, keberadaan papan peringatan tersebut dinilai belum cukup menghentikan perilaku membuang sampah sembarangan.
“Imbauan sudah dipasang, tapi apa gunanya kalau tidak ada yang mengawasi dan tidak ada yang menindak? Papan imbauan itu hanya jadi pajangan,” ujar Salman.
Keluhan serupa juga datang dari kalangan pemuda setempat. Mereka mengaku prihatin karena kawasan jembatan yang seharusnya menjadi tempat menikmati pemandangan sungai justru dipenuhi sampah.
“Kami anak muda Penarik ini kalau sore sering berhenti sebentar di atas jembatan, mau menikmati keindahan sungai. Tapi apa yang kami lihat? Sampah menumpuk di pinggir kiri-kanan jembatan. Kantong plastik, karung sampah, sisa makanan, semuanya tersangkut di besi jembatan. Bau, kotor, dan memalukan,” keluh salah seorang pemuda Penarik.
Ia juga mempertanyakan implementasi program kebersihan yang telah dicanangkan pemerintah daerah.
“Katanya Mukomuko Bebas Sampah Setiap Hari. Mana buktinya? Di Penarik ini saja belum bebas sampah. Program Bupati itu bagus, tetapi kalau di bawah tidak dijalankan, ya percuma. Jangan hanya bagus saat acara launching saja,” tambahnya.
Bagi masyarakat setempat, Jembatan Penarik semestinya menjadi ikon kebanggaan desa, bukan justru berubah menjadi lokasi yang identik dengan tumpukan sampah dan pencemaran sungai.
Sebagaimana diketahui, Bupati Mukomuko H. Choirul Huda, SH, sebelumnya telah meluncurkan gerakan “Mukomuko Bebas Sampah Setiap Hari” sekaligus aplikasi SIM BERSERI SIGAP pada Selasa (27/10/2026).
Program tersebut mengusung pendekatan kolaboratif dan berbasis digital untuk memperkuat pengawasan kebersihan lingkungan, sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam menangani persoalan sampah mulai dari rumah tangga hingga wilayah pedesaan.
Namun, kondisi di Sungai Air Dikit menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dijawab. Pemerintah daerah perlu memastikan program tersebut benar-benar diterapkan, termasuk melalui pengawasan rutin dan penanganan titik-titik rawan pembuangan sampah.
Dalam upaya memperoleh konfirmasi, Kepala Desa Penarik, Supardi, telah dihubungi melalui pesan WhatsApp dan telepon untuk dimintai tanggapan terkait persoalan tersebut. Namun, hingga berita ini disusun, belum diperoleh jawaban.
Salman mendesak Bupati Mukomuko agar tidak membiarkan gerakan kebersihan hanya menjadi slogan. Menurutnya, pemerintah desa harus mengambil peran lebih besar karena menjadi ujung tombak pelaksanaan kebijakan di tengah masyarakat.
Ia mendorong Pemerintah Desa Penarik mempertimbangkan sejumlah langkah konkret, mulai dari penyusunan peraturan desa (Perdes) tentang pengelolaan sampah, pemasangan CCTV di titik rawan, penerapan sanksi sesuai ketentuan, hingga melibatkan pemuda sebagai pengawas lingkungan.
Selain itu, pengelolaan sampah perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan pedagang, pelaku usaha, dan masyarakat yang beraktivitas di sekitar jembatan.
Persoalan Sungai Air Dikit seharusnya menjadi momentum evaluasi bersama. Sebab, menjaga sungai bukan semata tanggung jawab pemerintah, melainkan kewajiban seluruh elemen masyarakat.
Jangan sampai Mukomuko Bebas Sampah Setiap Hari hanya terdengar lantang saat peluncuran program, tetapi kehilangan gaung ketika berhadapan dengan kenyataan di lapangan. Sungai Air Dikit membutuhkan tindakan nyata, bukan sekadar imbauan.
Reporter: Bambang
Eidtor: ANasril






























