Tulungagung, Word Pers Indonesia – Tangis keluarga pecah di rumah duka ketika jenazah Sari Sukoco (39) tiba di Tulungagung, Jawa Timur, Senin (3/8/2026) malam. Sari menjadi salah satu korban meninggal dalam kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2 di perairan utara Madura.
Warga Desa Sidorejo, Kecamatan Kauman, itu meninggal ketika menjalankan pekerjaannya sebagai sopir truk ekspedisi. Ia bersama rekannya, Bambang Susilo, tengah membawa muatan pendingin ruangan dari Jakarta menuju Makassar.
Namun perjalanan tersebut berubah menjadi tragedi setelah kapal yang mereka tumpangi terbakar.
“Mas, Ayo Lompat!”
Bambang menjadi salah satu orang yang menyaksikan momen terakhir Sari sebelum keduanya terpisah dalam kepanikan.
Saat api mulai menjalar dan suhu di dalam kapal semakin panas, Bambang berusaha mengajak rekannya menyelamatkan diri dengan melompat ke laut.
“Saya bilang, ‘Mas, ayo lompat.’ Almarhum menjawab, ‘nanti-nanti saja.’ Saya bilang lagi, ‘Mas, saya turun duluan.’ Beliau cuma tersenyum sambil mengangguk,” tutur Bambang.
Bambang kemudian melompat ke laut. Sementara Sari masih berada di kapal.
“Yang terakhir saya lihat, almarhum masih berdiri di pinggir kapal,” ujarnya.
Bambang mengatakan kondisi di kapal ketika itu semakin mencekam. Api mulai bergerak ke bagian depan, sedangkan lantai dan kaca kendaraan terasa panas.
“Api sudah mulai menjalar ke depan. Lantai kapal sudah panas, kaca juga sudah panas. Saya akhirnya berinisiatif lompat,” katanya.
Menurut Bambang, mereka berada dalam satu kelompok berjumlah enam orang. Satu orang lebih dulu melompat, kemudian Bambang menyusul. Tiga orang lainnya akhirnya ikut menyelamatkan diri, sementara Sari menjadi orang terakhir yang dilihat Bambang masih berada di kapal.
Bertahan di Laut Selama Berjam-jam
Setelah terjun ke laut, Bambang bersama korban selamat lainnya berupaya mendekati kapal penolong. Namun kondisi gelombang dan kekhawatiran terhadap kemungkinan ledakan membuat proses pertolongan tidak mudah.
“Hampir tiga jam lebih kami berada di air. Kami berenang berusaha mendekati kapal penolong. Tapi kapal penolong juga tidak berani mendekat karena khawatir terjadi ledakan,” jelas Bambang.
Bambang dan Sari sebelumnya memang melakukan perjalanan bersama. Keduanya menggunakan satu truk ekspedisi untuk mengangkut muatan pendingin ruangan dari Jakarta menuju Makassar.
“Kami berangkat satu kendaraan ekspedisi membawa muatan pendingin ruangan tujuan Makassar. Saya sama almarhum satu truk,” ungkapnya.
Mereka bahkan sempat menunggu jadwal keberangkatan kapal selama hampir sepekan. Saat menunggu, keduanya sempat pulang ke Tulungagung sebelum kembali menuju Surabaya untuk melanjutkan perjalanan.
Bagi Bambang, Sari bukan sekadar teman seperjalanan. Keduanya telah bekerja bersama selama sekitar delapan tahun.
Ia mengenang Sari sebagai sosok yang mudah bergaul, santai, dan menyenangkan.
“Saya sudah bekerja sama almarhum sekitar delapan tahun. Orangnya menyenangkan, baik, dan santai,” kata Bambang.
Ada satu cerita lain yang kini menjadi kenangan. Sebelum perjalanan terakhirnya, Sari sempat bercerita kepada Bambang mengenai rencana menikah.
“Kami sempat ngobrol. Almarhum cerita kalau tahun ini ingin menikah,” tutur Bambang.
Jenazah Sari tiba di rumah duka di Kelurahan Tertek, Kecamatan Tulungagung, sekitar pukul 22.00 WIB. Setelah disemayamkan sekitar 30 menit, jenazah kemudian dimakamkan di tempat pemakaman umum setempat.
KMP Mutiara Sentosa 2 merupakan kapal rute Surabaya-Makassar milik PT Atosim Lampung Pelayaran (ALP). Kapal tersebut terbakar di perairan utara Madura pada Minggu (2/8/2026) pagi.
Berdasarkan informasi Kantor SAR Surabaya, kapal diperkirakan membawa sekitar 250 penumpang dan kru.
Hingga Senin (3/8/2026), laporan menyebut lima orang ditemukan meninggal dunia dan 229 orang berhasil dievakuasi. Proses pencarian dan evakuasi masih berlangsung.
Kantor SAR Surabaya menerima informasi awal kebakaran pada pukul 08.24 WIB dari petugas Syahbandar Tanjung Perak. Satu menit kemudian, PT ALP turut melaporkan kejadian tersebut.
Informasi awal menyebutkan kebakaran diketahui nakhoda sekitar pukul 06.00 hingga 07.00 WIB di kawasan utara Madura. Setelah laporan tersebut diterima, komunikasi dengan nakhoda disebut tidak lagi tersambung.
Tragedi tersebut menyisakan duka bagi keluarga Sari di Tulungagung. Bagi Bambang, momen terakhir bersama rekannya akan terus teringat—senyum dan anggukan Sari sebelum keduanya berpisah di tengah kobaran api.
Reporter: Agris
Editor: Anasril




























