Aksi Nyata BPJN Bengkulu, 1,65 Km Jalan di Mukomuko Diperlebar, Jalur Maut Disulap Lebih Aman

Mukomuko, Word Pers Indonesia — Pelebaran jalan sepanjang 1,65 kilometer di ruas perbatasan Sumatera Barat–Mukomuko langsung berdampak pada keselamatan pengguna dan kelancaran arus logistik. Titik rawan kecelakaan dipangkas, waktu tempuh dipersingkat, dan distribusi barang antarprovinsi dipacu lebih cepat.

Proyek yang digarap Balai Pelaksana Jalan Nasional Bengkulu melalui Satker Wilayah 1, PPK 1.1 ini menyasar ruas Batas Provinsi Sumbar–Mukomuko. Total penanganan mencapai 1,65 km, terdiri dari pelebaran jalan 1,64 km dan penanganan longsor permanen sepanjang 10 meter—dua pekerjaan yang selama ini jadi titik lemah jalur perbatasan.

Kepala Satker Wilayah 1, Tendi Hardianto, menegaskan proyek ini bukan tambal sulam. “Ini jalur strategis antarprovinsi. Kalau kapasitas jalan sempit dan rawan longsor, dampaknya bukan cuma macet, tapi juga keselamatan pengguna,” katanya.

Di lapangan, pelebaran membuat ruang manuver kendaraan lebih aman, terutama untuk truk angkutan barang. Penanganan longsor permanen juga menutup potensi putusnya akses saat cuaca ekstrem—masalah klasik yang kerap melumpuhkan jalur ini.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1.1 menekankan dua target utama: kapasitas dan keselamatan. “Dengan pelebaran dan penanganan longsor permanen, arus lalu lintas lebih lancar dan risiko kecelakaan ditekan,” ujarnya.

Ruas perbatasan ini memegang peran vital sebagai penghubung ekonomi antara Bengkulu dan Sumatera Barat. Setiap gangguan di titik ini langsung terasa pada distribusi komoditas, dari hasil pertanian hingga kebutuhan pokok. Pelebaran jalan otomatis membuka ruang bagi peningkatan volume kendaraan dan efisiensi biaya logistik.

BPJN Bengkulu menyatakan komitmen menjaga kualitas jalan nasional, terutama di wilayah perbatasan yang kerap terabaikan. Proyek ini diposisikan sebagai langkah konkret memperkuat konektivitas regional sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.

BACA JUGA:  Bersinergi, Polres Mukomuko Gelar Baksos dan Kampanye Ketertiban Lalu Lintas

Pelebaran jalan seperti ini sering terlambat dilakukan karena fokus pembangunan lebih banyak terserap di pusat kota. Padahal, jalur perbatasan justru menjadi urat nadi distribusi barang. Ketika kapasitas jalan tidak sebanding dengan volume kendaraan, risiko kecelakaan meningkat dan biaya logistik melonjak. Penanganan longsor yang selama ini bersifat sementara juga memperparah situasi. Baru setelah tekanan kebutuhan ekonomi dan tingginya angka kecelakaan, proyek permanen dikebut. Ini menunjukkan perencanaan infrastruktur masih cenderung reaktif, bukan antisipatif.

Kini jalan diperlebar, titik rawan diperkuat, dan arus kendaraan mulai longgar. BPJN Bengkulu memastikan akan selalu konsisten.

Reporter: Bambang
Editor: Anasril

Posting Terkait

Jangan Lewatkan