Dari Bengkulu ke Jepang: Misi Nando Ari Bayran Angkat Bahasa dan Budaya Rejang Mendunia

Kepahiang, Word Pers Indonesia – Di tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi budaya asing di media sosial, seorang pemuda asal Kabupaten Kepahiang, Bengkulu, tampil dengan langkah berbeda. Ia bukan sekadar membuat konten hiburan, tetapi membawa misi budaya.

Dialah Nando Ari Bayran (24), pemuda suku Rejang yang konsisten memperkenalkan bahasa dan budaya Rejang hingga ke Jepang melalui platform digital.

Lahir dan besar di Kepahiang, Nando tumbuh dengan identitas kuat sebagai bagian dari suku Rejang salah satu suku tertua dan terbesar di Provinsi Bengkulu. Identitas itu yang kini ia bawa melintasi batas negara, memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada audiens internasional, khususnya masyarakat Jepang.

Branding Digital: Bahasa Jepang Bertemu Budaya Rejang

Melalui akun Facebook bernama Ari Joka RI, Nando berhasil mengumpulkan sekitar 22 ribu pengikut. Konten-kontennya memiliki ciri khas yang kuat: penggunaan bahasa Jepang dalam percakapan sehari-hari, dipadukan dengan edukasi tentang budaya Rejang dan Bengkulu.

Tak hanya itu, di platform TikTok melalui akun nando_abngjok, ia semakin aktif membangun personal branding sebagai Edukasi. figur muda yang menggabungkan literasi bahasa asing dengan kecintaan terhadap budaya daerah.

“Kalau bukan kita yang memperkenalkan budaya sendiri, siapa lagi? Saya ingin orang Jepang tahu bahwa di Bengkulu ada suku Rejang dengan bahasa dan tradisi yang luar biasa,” ujar Nando dalam dalam pernyataannya kepada awak media ini, Selasa (17/2/2026).

Langkah ini bukan sekadar konten viral, tetapi bagian dari strategi dan energi positif diri sebagai duta budaya digital. Ia memanfaatkan algoritma media sosial untuk memperluas jangkauan budaya Rejang, membangun citra positif anak muda Bengkulu yang berwawasan global namun tetap berakar pada kearifan lokal.

BACA JUGA:  Sukseskan Pemilu 2024, RRI Bengkulu Akan Gelar Dialog Interaktif "Parlemen Menjawab"

Budaya Rejang: Warisan Leluhur yang Kaya Nilai

Budaya Rejang merupakan salah satu identitas penting Provinsi Bengkulu. Suku Rejang dikenal memiliki bahasa sendiri, sistem adat yang kuat, serta warisan aksara kuno yang disebut Aksara Ka Ga Nga atau dikenal juga sebagai Surat Ulu.

Tak hanya bahasa, masyarakat Rejang juga memiliki tradisi adat, hukum adat, serta kesenian yang sarat nilai filosofi. Prinsip kebersamaan, musyawarah, serta penghormatan kepada leluhur menjadi fondasi dalam kehidupan sosial masyarakatnya.

Dalam setiap kontennya, Nando kerap menjelaskan arti kata dalam bahasa Rejang, memperkenalkan istilah adat, hingga memadukannya dengan terjemahan bahasa Jepang. Strategi ini membuat audiens luar negeri lebih mudah memahami sekaligus tertarik dengan budaya Bengkulu.

“Bahasa itu identitas. Kalau bahasa hilang, budaya ikut hilang. Itu yang ingin saya jaga,” tegasnya.

Anak Muda Bengkulu Go International

Langkah Nando Ari Bayran menjadi gambaran bagaimana generasi muda dapat menjadi agen diplomasi budaya tanpa harus menjadi pejabat atau figur publik besar. Cukup dengan konsistensi, kreativitas, dan kecintaan pada daerah asal, ia mampu membangun citra Bengkulu khususnya budaya Rejang di mata dunia.

Di usia 24 tahun, ia telah membuktikan bahwa media sosial bukan sekadar ruang hiburan, tetapi juga panggung edukasi dan pelestarian budaya. Branding yang ia bangun bukan hanya tentang popularitas, melainkan tentang misi memperkenalkan identitas daerah ke ranah global.

Upaya ini menjadi inspirasi bahwa dari Kepahiang, suara budaya Rejang bisa menggema hingga Jepang. Dan di tangan anak muda seperti Nando Ari Bayran, warisan leluhur tidak hanya dijaga, tetapi juga dipromosikan dengan cara yang modern, kreatif, dan membanggakan.

Editor: ANasril

Posting Terkait

banner 2000x647

Jangan Lewatkan