Part II: Tuhan Jangan Dulu Kau Cabut Bunga-Bunga Indah ini

Oleh : Bagus Republik SLE

Part II

Bolehkah Aku Memanggilmu “Ayah? “

“Terimakasih bu, atas informasinya. Nanti saya tanya kalau sudah pulang…” Aku menutup telpon.

Aku terduduk lemas. Telpon dari wali kelas Jago barusan membuat aku kehilangan tenaga dan semangat.

Apa yang telah terjadi? Ada apa dengan Jago? Apa aku telah melakukan kesalahan? Apa Jago sudah mulai tertarik dengan seorang gadis dan gadis itu menolaknya? Dan siapa gadis yang berani menolaknya dia? Atau…. Entahlah, aku belum menemukan jawabannya.

Aku harus memanggil Tegar, mungkin dia tahu tentang abangnya.

“Ngopi dulu om…. “

Belum sempat aku memanggil, Tegar sudah datang dengan segelas kopi. Setelah meletakkan kopi, dia masih berdiri di sampingku. Aku memandang wajah ‘anakku’ ini. Sudah besar rupanya.

“Sini, duduk dekat om” Aku menggeser dudukku. Dengan ragu dia duduk di sampingku. Dia menunduk. Ada sesuatu yang berat yang dipikirkannya.

“Ada apa? ” Aku menepuk pundaknya dengan lembut.

“Maaf om… “

“Iya, ada apa! ” Aku berusaha tenang. Aku yakin dia mengetahui perihal abangnya.

“Tentang abang om… “
Dia masih menunduk dan ragu ingin melanjutkan kalimatnya.

“Tapi om jangan marah…! “
Dia memandang aku dengan harap. Matanya berkaca-kaca. Aku tersentuh.

“Nggak, om nggak akan marah. Ada apa? ” Aku menatap matanya selembut mungkin yang aku bisa. Karena menurut Jago, mataku sangar.

“Abangmu kenapa?” Aku sudah tidak sabar menunggu penjelasannya.

“Abang sebenarnya…. Abang sebenarnya…. ” Aku semakin tidak sabar.

“Iya, abangmu kenapa? ” Suaraku mulai meninggi.

“Abang sebenarnya pergi mencari ayah dan adik kami om…!” Kalimat itu buru-buru dia ucapkan dan segera beranjak begitu selesai.

Aku tercekat sesaat!
“Apa?! Kapan dan bagaimana dia berangkat?! ” Suaraku menggelegar!

Aku bangkit dan mengejar Tegar di kamarnya. Pintunya dikunci dari dalam.

“Tegar, jawab om! Kapan dan bagaimana abangmu berangkat? “

Aku menggedor-gedor pintunya.

“Om janji tadi tidak akan marah!”

“Bagaimana om tidak marah, abangmu pergi tidak tahu kapan dan bagaimana. Bagaimana om tidak marah kalau om tidak tahu kondisi abangmu di luar sana?” Ayo jawab om! ” Aku benar-benar murka.

Samar-samar aku mendengar suara isak dari dalam kamar Tegar. Jiwaku tersayat. Perih! Untuk ke tiga kalinya aku telah membuat seorang Tegar menangis.

Pertama ketika dia usia 7 tahun. Waktu itu dia pergi mandi laut, tanpa pamit. Dan aku sudah bagai orang gila mencarinya. Begitu ketemu aku langsung mencak-mencak menunjuk-nunjuk laut Dan entah apa saja yang aku ucapkan. Aku berhenti ketika Aku melihat dia mengkerut dan mengeluarkan air mata. Aku langsung lemas dan merangkulnya. Aku gendong dia sampai ke cafe.

Kedua kalinya ketika dia berumur sepuluh tahun. Waktu itu dia terluka karena terjatuh ketika naik pohon cemara di belakang cafe. Kembali Aku bagai orang kesurupan, dan berhenti ketika melihat Jago menangis sambil melindungi adiknya. Bagai api disiram air, Aku langsung menggendong Tegar dan membawanya ke dokter dan tukang urut.

Aku terduduk lemas dan bersandar di dinding.

‘Dek, keluarlah. Om tidak marah lagi.*

Tidak lama kemudian, aku dengar kursi bergeser. Ketika pintu dibuka, aku mencari wajah laki-laki yang sudah remaja itu.

Aku melihat wajah yang basah.

Aku menarik tangannya dengan lembut mengisyaratkan agar dia duduk di sampingku. Ketika dia duduk di sampingku aku merangkul pundaknya. Ada rasa yang tidak bisa aku jelaskan. Dan aku ingin menikmati rasa ini. Aku pejamkan mataku, meresapi setiap denyut nadi Tegar di kulitku yang semakin lama semakin tenang.

“Dek, tolong jawab pertanyaan-pertanyaan om tadi.” Aku memandang wajah yang Ada di bahuku. Matanya yang terpejam perlahan terbuka. Mata itu juga memandangku. Sesaat kemudian, dia memandang tangannya yang memainkan ujung kaosnya. Setelah menarik napas dalam-dalam dia membuka suara.

“Abang pergi 3 hari yang lalu om. Dia sebenarnya tidak Ada kegiatan sekolah. Dia bohong takut om marah dan tidak mengizinkan dia pergi.*

Aku menyimak setiap kata anak muda ini. Dan pantas saja kalau wali kelas Tegar tadi menelpon.

” Abang sudah sangat rindu pada ayah om, terutama pada adek. Kami sangat sedih karena hingga saat ini ayah dan adek tidak ada kabarnya.”

Pikiranku menerawang pada kejadian sepuluh tahun lalu. Setelah kami sadar dari pingsan akibat bencana air bah itu, dua hari kemudian Jago mengajak aku untuk melihat bekas ‘rumah’ mereka. Di tangannya ada triplek yang ditengahnya dikasih kayu yang diruncingkan. Aku tidak bertanya apa itu.

Walau bingung aku menyanggupinya. Bertiga kami menaiki motor menuju lokasi yang dituju. Sedangkan mobilku masih terjepit di ketinggian kurang lebih tiga meter diantara dua pohon cemara tidak jauh ketika mobil itu terbawa arus.

Aku arahkan motor pada jalur yang kurang ramai. Karena saat ini lokasi di sekitaran Kualo sangat ramai, baik oleh masyarakat yang hanya numpang selfie ataupun petugas yang membantu evakuasi warga yang jadi korban.

Di ujung jembatan air Pasar Bengkulu, Aku arahkan motor ke jalan sebelah kiri, menuju bukit yang dekat rumah Jago dan Tegar. Seperti dugaanku, di sini agak sepi.
Aku membawa motor sedekat mungkin dengan tujuan.

Ketika berada di tempat yang aku rasa agak aman, aku menghentikan motor. Jago langsung turun dan berlari membawa barang yang dia bawa, diikuti oleh Tegar. Aku mengikuti dari belakang dengan berjalan. Sambil melangkah Aku tutupi wajahku dengan masker
khawatir jika Ada yang mengenalku.

Jago sudah menancapkan bawaannya. Ketika Aku baca, kagumku semakin bertambah terhadap anak ini.

“AYAH, KAMI SELAMAT, SEKARANG KAMI ADA DI TEMPAT KERJA”

Tulisan ini berwarna merah.

Dan setelah itu, Aku selalu mencari informasi tentang ayah mereka, bahkan hingga hari ini. Sejujurnya, beberapa tahun belakangan, aku berharap tidak mendapatkan kabar tentang beliau. Ada kekhawatiran di hatiku. Aku tidak tahu apa penyebab kekhawatiran itu

“Om…. ” Aku tersadar dari lamunan.

“Iya dek… “

“Maafkan kami ya yang sudah merepotkan om.”

Aku memandang wajah Tegar. Matanya begitu berharap.

“Iya, om maafkan. Tapi om khawatir pada abangmu. Takut Ada apa-apa di jalan.”

“Ah sudahlah, mandi sana. Tuh, ketekmu acem!” Gurauku sekedar mengalihkan rasa gundah yang teramat sangat.

Tegar mencium ketiaknya, dan tersenyum malu, lalu bangkit ke kamar. Tidak lama kemudian keluar dengan menenteng handuk.

Aku segera bangkit dan menuju meja yang sudah tersedia kopi. Aku meraih kopi itu dan meminumnya. Aku tidak tahu rasa kopi yang aku seruput, karena pikiranku masih memikirkan Jago.

Aku raih HP dan membuka aplikasi album. Memilih beberapa foto Jago dan menyebarkan ke beberapa teman, terutama di sekitar wilayah yang Aku curigai akan didatangi oleh jagoanku tersebut. Kalimatnya adalah “TOLONG BAWA ANAKKU PULANG!!!”.

Hari ke empat, belum ada kabar. Hari ke lima terlewatkan begitu saja. Malam ini malam ke enam. Aku semakin uring-uringan. Karyawan cafe mulai tidak berani dekat-dekat denganku. Tegar sepertinya memang menghindar.

Aku telpon beberapa orang yang Aku kirim pesan, tapi tidak seorangpun yang mengangkat. Aku gusar.

Tiba-tiba HP di tanganku bergetar. Ada pesan dari nomor yang tidak aku kenal. Aku segera buka, berharap Ada kabar tentang Jago.

” Om buka FB Jago” Aku bingung. Selama ini aku tidak pernah berteman dengan Jago di FB.

“Om tidak berteman dengan Jago. Apa mama FB-nya? ” Cepat sekali aku membalas chat tersebut. Rasanya lama sekali jawaban dari pesanku.

“Namanya itu lah om”

“Ok trimakasih! “

Buru-buru aku membuka aplikasi FB dan mengetik nama Jago di pencarian. Ada banyak nama Jago yang keluar. Aku mulai melihat satu-persatu foto profile. Aku terhenti dan membuka ketika Ada foto aku memeluk Jago. Kami sama-sama tertawa dalam foto itu. Hatiku berdenyut.

Aku buka halaman FB itu, tapi sepertinya dia tidak ingin publik tahu tentang ceritanya di FB. Aku tidak menemukan banyak hal yang ingin Aku ketahui.

“Om tidak menemukan apapun, terutama yang kamu maksud” Aku kirim pada messenger yang menyuruh aku membuka FB Jago.

Tidak lama kemudian masuk potongan screen shoot. Tulisannya membuat persendianku lemas, sekalian membuat aku melayang.

“Guys, apa yang kalian rasakan tentang kata ‘AYAH’???!!! Bolehkah aku memanggilmu ” AYAH???!!!”

Aku tersenyum bahagia. Mataku aku rasakan menghangat. Aku biarkan air mataku mengalir. Aku bagai melayang di awan.

Aku tertawa sambil berjingkrak-jingkrak. Aku melupakan usiaku yang sudah tidak pantas lagi melakukan atraksi ini. Untung tidak Ada tamu cafe saat ini.

Aku panggil semua karyawan dengan nada riang. Aku suruh mereka duduk di depanku. Mereka menampakkan wajah bingung.

“Tegar, ke marilah!” Aku berteriak memanggil Tegar. Dan memanggil lagi ketika Aku rasakan belum ada reaksi dari remaja itu

“Iya om. Sebentar!” Jawabnya.
“Cepat lah dikit!”
Setengah berlari Tegar menghampiri kami. Aku menarik lengannya dan meminta dia duduk di sampingku.

“Tanggal berapa ulang tahun abangmu? ” Aku langsung bertanya sebelum dia duduk sempurna.

Aku lihat wajahnya bingung. Tapi kelihatannya dia berusaha mengingat sesuatu.

“Tiga hari lagi om.”

“Yang ke tujuh belaskan? * timpalku cepat.

” Iya om! ” Hatiku bersorak. Aku punya rencana untuk itu.

Kemudian aku memberikan tugas tambahan pada semua karyawanku. Dan meminta mereka untuk tidak bertanya. Selanjutnya aku suruh mereka kembali pada posisi masing-masing.

“Om, tapi abang belum pulang… ” Tegar menggamit lenganku sambil berbisik. Kelihatan sekali kalau dia khawatir dengan rencana rahasiaku ini.

“Tenang saja. Om yakin dia akan segera pulang.” Aku menjawab riang.

“Sudah… Kamu tolong bikinkan om kopi.” Perintahku untuk menenangkan dia.

Sepeninggal Tegar, HP ku berbunyi. Ada panggilan dari temanku di medan yang Aku kirimi pesan.

Cepat-cepat Aku angkat Dan melangkah menjauh.

“Ada kabar baik?” Aku langsung mengejar dengan pertanyaan tersebut.

“Sabar bang. Jangan ngegas gitu. Gemetarlah hati adek abang ini.” Lalu laki-laki itu terkekeh.

“Bagaimana?” Entah mengapa aku saat ini tidak menginginkan dia bercanda.

‘Iya abangku. Sabar dikit lah… Zagoan abang sudah aku ketemu. Jauh di pelosok kebun sawit sana… “

“Bagaimana kondisi nya?!” Bagiku tahu kondisi Jago saat ini adalah yang terpenting.

“Sabar lah abangku. Kalimat adikmu ini belum selesaipun. Zagoan abang baik-baik saja. Besok aku kirim pulangnya.”

“Kamu belikan dia tiket penerbangan pertama.”

“Bah, abangku tak sabar lagi rupanya. Besok la aku kirim dia lewat truk sawit! ” Lalu dia terkekeh-kekeh sebelum menutup telpon.

Ooohhh… Malam ini aku rasakan Tuhan sangat sayang padaku.

Hari ini aku bangun lebih pagi. Aku sangat bersemangat. Hari ini aku mandi pagi setelah lama tidak pernah melakukannya, sambil bersiul-siul. Membuat kopi dan membuat sarapan untuk aku dan Tegar.

Anak ini bingung. Tidak penting bagiku apa yang dia pikirkan. Setelah sarapan, dia pamit padaku untuk sekolah, tidak lupa dia salim dan mencium tanganku. Eh, sudah berapa lama ya, ritual seperti ini terhenti? Aku berusaha mengingat. Oh ya, sejak Tegar masuk SMP. Dan sekarang dia sudah kelas satu SMA.

Aku mengikuti langkah pemuda ini hingga pintu depan. Aku pandang dia hingga motor ojol lokal Kupesan langganan membawanya menjauh.

“Sudah besar kalian rupanya.” Gumamku. Ternyata selama ini aku melewatkan perkembangan mereka.

Kembali aku masuk dapur. Tapi bingung mau melakukan apa. Lalu ke depan lagi sambil membawa sapu. Sambil menyanyi aku menyapu seluruh ruangan. Bahkan halaman. Hari ini aku melakukan hal-hal yang telah lama tidak aku lakukan.

Sesekali aku melihat jam di layar HP., melangkah ke luar, melongok ke ujung jalan, masuk lagi, duduk lagi, melihat jam lagi, melangkah ke pinggir jalan dan melongok ke arah jembatan lagi. Berulang-ulang tanpa aku sadari. Ah… Begitu lama waktu berlalu.

“Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu, terpaksa kepalkan tangan demi satu impian yang kerap ganggu tidurnya… “

Lewat tengah Hari, sebuah mobil yang bertuliskan brand angkutan umum masuk parkiran. Setengah meloncat aku melangkah ke pintu dan melihat siapa yang turun.

BACA JUGA:  Part #15 Tuhan Jangan Kau Cabut Dulu Bunga-Bunga Indah Ini

“Horas abangku. Tak disangka aku ke mari lagi! ” Tidak aku hiraukan laki-laki batak hitam satu ini. Mataku masih menunggu siapa yang berikutnya akan keluar.

“Bah, tak dihiraunya awak. Awak datang jauh-jauh dari medan sana. Hey, Zagoan, keluar lah kau. Tulang tak dianggap oleh ommu” Dia berbalik membuka pintu mobil dan menarik penumpang satunya.

Aku lihat Jago ragu-ragu turun. Pelan-pelan dia melangkah di belakang sang Tulang. Sebenarnya Aku sangat bahagia melihat wajah laki-laki itu. Tapi entah kenapa tiba-tiba Aku mulai mencak-mencak kesurupan.

“Kau itu ya kalau mau per… “

“Hey hey, tak ada yang boleh marah sama zagoanku selama aku di sini. Kejam kali kaunya bang!”

Laki-laki itu memotong kalimat murkaku, nadanya sangat serius bahkan cederung menantang.

Si Batak memasang badan melindungi Jago. Aku mengepalkan tanganku ke udara dan mengatupkan rahangku kuat-kuat, untuk menahan kegilaanku ketika emosi lagi tinggi.

Dia menggandeng tangan Jago, berjalan melewatiku sambil terkekeh. Aku geram. Emosiku masih tertahan. Aku hanya bisa meninju udara. Si Batak makin terkekeh.

Begitu sudah ada di dalam, dia mendorong Jago duduk di sudut dan dia di sebelah Jago. Dia bermaksud melindungi remaja yang telah membuat aku gila beberapa hari ini.

“Hey bang, buatkanlah adindamu ini kopimu yang terkenal itu… ” Tanpa basa-basi dia langsung memerintah aku. Aku harus bagaimana coba?

“Kamu itu ya, tidak sopan sama sekali. Datang langsung main perintah. Aku ini presiden woy…!”

Dengan berat hati aku menuju kompor.. Menghidupkannya, lalu mempersiapkan kopi istimewa yang hanya ada di cafeku.

Selagi aku berbalik dan ingin mematikan kompor, seseorang berdiri di belakangku.

“Om, maafkan Jago om. Jago sudah berbohong dan membuat om khawatir… ”

Perlahan aku berbalik dan memandang wajah yang bersalah tersebut. Aku memeluk jiwa yang resah ini.

“Iya bang, om sudah maafkan… “

Baru Aku sadar kalau remaja ini sudah lebih tinggi dari aku.

“Bah, tak ingat rupanya sama kopi adiknya… ” Si Batak protes.

Dengan cepat aku lepaskan pelukanku dan segera membuat kopi untuk si Batak yang tertunda. Jago ingin membantuku. Tapi dicegah oleh Tulangnya.

“Hey, zagoan, kau duduk saja sini dekat Tulang. Biar si tua bangka itu yang bikin kopi untuk Tulang.”

Aku pura-pura marah dan mengacungkan pisau ke arahnya.

“Nanti lah kalau abangnda mau bunuh adinda ini. Biarkan adindamu ini menikmati kopi terhebat di dunia buatanmu terlebih dahulu… ” Selanjutnya dia terkekeh. Walau aku benci kekehannya, jujur, justru kebiasaannya inilah yang membuat aku rindu pada sosoknya.

Aku segera membawakan kopi istimewa ini ke hadapan laki-laki yang pernah membuat aku berkelahi melawan tiga orang yang menyerangnya, dan waktu itu aku belum mengenalnya.

Setelah kejadian itu, setelah situasi aman, aku mengajak dia ke cafe.

Aku meletakkan kopi di hadapannya, tapi ketika Aku akan mengangkat tanganku, dia langsung bangkit memelukku.

“Abangnda, awak tak tahu lah nasib awak malam itu kalau abangnda tak menolong awak, mungkin hari ini tidak akan pernah ada dalam hidup awak… ” Dia sesenggukan

Jago memandang kami dengan bingung.

Aku biarkan dia menangis hingga puas dibahuku. Ketika Aku melihat karyawanku mulai masuk kerja, Aku melepaskan pelukannya. Segera dia hapus air matanya dan duduk kembali.

“Ah dasar cengengnya kau. Ketemu langsung nangis… ” Aku menggoda Ucok, begitulah aku selalu memanggilnya.

Tanggal satu Agustus. Hari ini aku membuat pengumuman di FB bahwa cafe tutupi. Dan tidak lupa membuat undangan untuk semua yang mau hadir malam nanti. Aku tidak sebutkan acaranya. Karena ini acara rahasia, tidak Ada seorangpun yang tahu.

Walau cafe tutup, tapi kesibukan hari ini melebihi kesibukan hari-hari biasa. Semua karyawan dan empat orang saudara perempuanku ikut terjun dalam kesibukan ini. Aku telah memberitahu mereka dan seluruh keluarga besarku sejak dua hari lalu. Walau mereka tidak tahu alasannya.

Aku sangat bersyukur memiliki semua keluargaku yang percaya penuh dengan apa pun yang Aku lakukan dan mereka selalu mendukungnya. Termasuk membawa Jago dan Tegar ke dalam lingkungan kami.

Ucok berperan sebagai ketua panitia acara malam ini. Si Batak ini sibuk memeriksa kesiapan acara yang jadi tanggung jawabnya.

“Kak, cepatlah kak, leher awak jtaruhannya ini…!” Aku mendengar suara Ucok mendesak kakakku di dapur.

“Sekali lagi kau ke sini, kakak kasih sambal mulut cerewetmu Cok…!”

Disambut oleh gelak kakak-kakakku yang lain.

“Ai mak, lebih kejam rupanya dari presidenku… ” Kembali tawa menghias suasana cafe di hari yang cerah ini.

Hari hampir saja menjelang maghrib. Jago dan Tegar baru saja pulang dari sekolah. Ketika melihat kesibukan ini, mereka buru-buru berganti baju dan siap akan membantu. Tapi dicegah oleh kakak tertuaku.

“Gak usah, mandi saja sana, lihat tuh, badan kalian kotor.”

Kedua remaja ini menurut.

Selepas maghrib tamu-tamu mulai berdatangan. Keluarga besarku, para pelanggan cafe, wali kelas Jago dan gadis pengirim screen shoot. Dua orang ini sengaja Aku undang berikut 5 orang sahabat Jago, yang sering menemani Jago di cafe, wali kelas Tegar dan tiga orang sahabat dekatnya. Semua tamu diarahkan oleh Ucok ke belakang cafe yang telah dia dan timnya ubah jadi lokasi pasta malam ini.

Tepat jam delapan malam, kurir dari AndonkBuddy datang membawa pesananku. Aku meminta dia meletakkan kotak yang di bawanya di atas meja bersama-sama hidangan yang telah disusun oleh tim konsumsi arahan kakak tertuaku yang dengan kecerewetannya telah menyiapkan semua hidangan di atas meja panjang itu.

Salah satu karyawanku maju. Sepertinya dia yang akan jadi penguasa acara malam ini. Pilihan Ucok sangat tepat. Dia berduet dengan salah seorang keponakanku.

Di sela-sela kalimat mereka, mereka menyelipkan kata-kata, bahwa seumur-umur baru kali ini mereka membawa acara tanpa tahu acara apa. Hadirin tertawa.

Sambil mendengar ocehahan keduanya, Aku memperkirakan jumlah tamu yang hadir. Setidaknya lebih dari seratus orang dari target awal maksimal enam puluh orang. Aku terharu.

Tiba-tiba rasa haruku terganggu oleh Ucok yang menarik aku.

“Bah, melamun pula dia. Di panggil-panggil oleh MC tidak didengarnyapun….! ” Dia mengomeli aku.

Aku terkejut sesaat. Saat berikutnya aku berdiri dengan mantap pada posisi yang telah ditentukan oleh ketua panitia.

Setelah mengucapkan salam dan berbla-bla bla bla bla, aku memanggil Ucok dan meminta dia membuka kotak yang di bawa oleh kurir. Dia tertegun sesaat, lalu dia meminta lampu di matikan entah siapa yang melakukannya, dan sekejap kemudian semua lampu di area pesta ini mati.

Ucok menyalakan sesuatu di dalam kotak tersebut. Para tamu berbisik-bisik tantang apa isi kotak tersebut. Ketika lilin hidup, aku memanggil Jago juga Tegar. Jago menghampiriku dan diikuti oleh Tegar. Aku meminta mereka berdiri di samping kiri dan kananku.

“Hadirin yang aku sayangi, acara malam ini adalah acara ulang tahun Jago yang ke tujuh belas tepat Hari ini, dan Tegar yang ke lima belas di hari kemarin. Sengaja aku rahasiakan pada kalian, bahkan pada yang berulang tahun. Aku ingin memberikan kejutan buat kalian semua.

Tulang, tolong hidupkan lampunya.”

Tanpa menunggu lama, semua lampu hidup kembali. Semua mata baru jelas apa yang ada dalam kotak yang di atas meja.

Ucok memimpin menyanyikan lagu ulang tahun dari grup band Jamrud lalu diikuti seluruh hadirin.

Jago dan Tegar berurai air mata. Tak henti-henti keduanya menyeka wajah mereka.

Setelah lagu usai, Ucok meminta dua orang yang menangis ini untuk meniup lilin.

“Tapi sebelum ditiup kalian berdoa pada Tuhan dan mintalah apa yang paling kalian ingin kan!”

Dua beradik ini melangkah ragu-ragu. Kembali Jago meraih tangan adiknya, sama seperti waktu mereka datang ‘melamar kerja’ padaku waktu dulu.

Di depan lilin angka usia mereka, mereka memejamkan mata, entah apa doa yang mereka kirimkan pada Tuhan.

Aku merangkul mereka dan mengucapkan doa harapan di dekat telinga mereka. Keduanya sesenggukan.

“Bah, lama kalipun. Kami mau juga mengucapkan selamat!” Ah, dasar Ucok. Aku melepaskan rangkulanku.

Selanjutnya kakak tertuaku memeluk yang berulang tahun dan mencium kening keduanya. Diikuti oleh semua tamu.

Setiap yang sudah mengucapkan selamat, mereka mengambil santapan yang telah tersedia.

Betapa bahagianya Aku malam ini. Berapa doa dari seluruh tamu malam ini menyirami hati Jago dan Tegar.? Ah, aku berharap semua yang terbaik di dunia ini dan akhirat kelak, jadi milik mereka.

Ketika semua tamu pulang, aku, Jago dan Tegar masih memandang laut di depan kami.

Sementara Ucok membereskan lampu-lampu. Meja makan dan lainnya telah dibereskan oleh keponakan-keponakanku, dibantu oleh beberapa tamu dan sahabat-sahabat ke dua anak ini.

Lama kami dalam lamunan masing-masing. Aku merebahkan tubuhku di atas pasir. Dan diikuti oleh dua remaja tangguh ini.

“Om… ” Serentak mereka memecah kediaman di antara kami.

“Hm…?! ” Aku menggumam.

“Adek saja dulu” Ujar Jago.

“Abang saja duluan.” Balas Tegar. Lalu sunyi kembali.

“Siapa yang ngomong duluan nih? ” Tanyaku dengan nada yang bergurau.

Lagi-lagi mereka mempersilahkan masing-masing dalam waktu bersamaan. Lalu sunyi lagi.

“Oke tidak ada yang mau duluan. Sekarang om mau tanya, tadi kalian minta apa pada Tuhan? “

Serentak mereka bangkit Dan saling berpandangan, lalu tertunduk lesu. sepertinya mereka terkejut dengan pertanyaanku. Sebenarnya aku tidak butuh jawaban dari mereka.

Aku lalu bangkit berdiri dan melangkah tiga langkah menjauhi mereka. Aku menghadap laut. Bukan tanpa alasan Aku melakukan ini, Aku antisipasi pendengaranku andai saja apa yang akan Aku sampaikan ini tidak seperti dugaanku.

“Jago, Tegar, dengarkan baik-baik apa yang akan om sampaikan.”

“Iya om…!” Cepat dan serentak.

“Mulai saat ini, kalian boleh panggil om, ayah! ”

“Apa om?” Keduanya menghampiri aku.

“Mulai saat ini, kalian boleh panggil om, ayah!” Aku mengulang kalimatku dan dengan intonasi yang diperjelas.

Aku lihat keduanya tertegun. Saling pandang, lalu memandang aku, kemudian saling pandang lagi.

Akhirnya Tegar yang berinisiatif bertanya kembali.

“Benarkah om?” Aku merasakan kalimat itu meragukan kalimat yang aku ucapkan.

“Iya!” Aku berbalik dan kembali ke cafe. Aku segera masuk kamar dan menutup pintunya. Aku sudah mempersiapkan hatiku apapun keputusan kedua bersaudara itu. Mereka bebas memilih. Apapun keputusan mereka, mereka tetap ‘anak-anakku’.

Aku hampir saja tertidur, samar-samar Aku dengar ketukan di pintu. Aku segera bangkit, menghidupkan lampu dan membuka pintu. Dua pasang mata yang merah memandang Aku. Sepertinya habis menangis.

“Boleh kami masuk….a…yah…? “

Walau Ada keraguan dan kecanggungan dalam kata ‘ayah’ tersebut., hatiku tetap berdesir.

“Iya, masuk lah nak…. ” Aku membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan mereka masuk.

“Ada apa bang, dek?” Aku memandang ke dua nya ketika mereka sudah ada di kamar. Mereka tertunduk.

Tegar lalu mengangkat mukanya, memandang aku, lalu memandang kakaknya. Jago mengangguk.

“Ayah… Bolehkah kami tidur dengan ayah malam. Ini? “

Aku terkejut. Tidak menyangka ada pertanyaan ini, dan aku tidak butuh ada pertanyaan yang bernada sama diulang kembali.

“Tentu saja dek. Abang dan adek boleh tidur sama ayah kapanpun kalian mau.” Ada yang hangat menyentuh hatiku.

Tegar lalu menutup pintu dan memeluk aku erat. Erat sekali. Aku teringat ketika dia memeluk Aku saat di gendong ketika menempuh hujan badai sepuluh tahun lalu. Bedanya tangan yang sekarang lebih besar dari tanganku.

Aku lihat Jago. Sepertinya dia juga ingin memeluk aku.

“Dek…. ” Tegurnya.

Dengan enggan Tegar melepaskan pelukannya, dan Jago segera memeluk aku. Pelukan yang sangat erat. Dengan canggung aku membalas pelukan remaja ini yang tingginya melebihi tinggi aku. Aku biarkan dia melepaskan keinginannya selama ini yang ia pendam dalam hatinya paling dalam.

Tegar sudah merapikan tempat tidur, dan memanggil kami untuk segera mengikutinya.

“Ayah di tengah…!” Dia memberi instruksi.

“Iya…. ” Aku menjawab sambil tersenyum lebar.

Bersambung….

BACA SEBELUMNYA PART I https://wordpers.id/tuhan-jangan-kau-cabut-dulu-bunga-bunga-indah-ini/

Komentar