Part IV : Tuhan Jangan Kau Cabut Dulu Bunga-Bunga Indah Ini

Pukulan Demi Pukulan

Tegar semakin merasa sendiri. Diabaikan dan dilupakan pada saat penting baginya. Terduduk lunglai, dan sesenggukan. Saking terlukanya, tanpa disadari hampir saja wajah basah oleh air mata itu menyentuh pasir.

Dalam hatinya, dia adalah orang yang tidak ada tempat di hati ayahnya. Dan orang yang disisihkan.

“Apa salah adek yaahhh….?”

Dia mengingat berapa kali dia dimarah oleh ayahnya. Dibanding Jago, memang dia paling sering membuat ayahnya ‘kesurupan’. Apakah karena ini hingga ayahnya ‘lebih’ sayang pada kakaknya di banding dirinya?

Ayahnya lebih sering ngobrol dengan abangnya dibandingkan dirinya, ayahnya lebih sering mengajak abangnya bepergian ke mana saja, terutama soal urusan cafe, ayahnya lebih sering tertawa terbahak-bahak ketika bersama abangnya.

Dan ketika ulang tahun abangnya yang ke tujuh belas, dibuat pesta yang sangat meriah dan besar. Sementara ulang tahun dirinya? Dia hanya sendiri.

“Ayah tidak adiiiiillll…..!!!” Lagi-lagi dia berteriak pada laut!

Belum lagi Tegar sempat mengatup bibir dari teriakannya, entah dari mana datangnya tiga orang yang bertubuh besar dan gempal. Merangkulnya dari belakang, menutup mulutnya, dan menyeret tubuh Tegar menjauhi lokasi, menjauhi tempat paling nyaman baginya, cafe.

Tegar meronta, dan berteriak memanggil ayahnya, tapi sia-sia, mulutnya tidak bisa dibuka, dan dia tidak bisa melepaskan diri. Hanya matanya menampakkan ketakutan dan liar memandang tiga orang tersebut.

Tidak ada satupun yang bisa dia lihat wajahnya. Ketiganya menggunakan penutup wajah, hanya mata mereka saja yang tidak tertutup. Tegar semakin ketakutan.

Dengan gerak cepat dan sunyi, tiga orang ini membawa Tegar ke dalam sebuah mobil, lalu mengikatnya. Semua gerakan itu dilakukan dengan sangat cepat dan teratur. Tidak lebih dari sepuluh detik, mereka meninggalkan lokasi, dan entah mau dibawa ke mana orang yang mereka bawa. Melihat setiap gerak mereka, sepertinya orang-orang ini telah professional dalam aksi mereka.

Selama dalam perjalanan ini suasana di dalam mobil sunyi. Tidak ada yang bersuara. Tegar pasrah. Hingga detik ini dia belum tahu apa yang terjadi. Yang ada di dalam fikirannya, dia pasti diculik. Tapi siapa penculiknya, dan untuk apa? Memeras ayahnyakah? Sesaat kemudian dia menyesali mengapa dia menyendiri tadi.

Mobil yang membawa Tegar memasuki sebuah pintu gerbang kebun sawit. Daun-daun sawit itu berkilauan memantulkan sinar bulan. Tegar tidak tahu lokasi ini. Dia benar-benar takut. Di sini tidak ada yang bisa menyelamatkan dia. Dan abangnya tidak bisa melindunginya.

Tapi bagi ayahnya yang sering ‘kesurupan’ jika marah itu, tidak akan susah mencari keberadaannya. Ada sedikit ketenangan di hatinya.

Tegar memejamkan mata, menerka-nerka kejadian apa yang akan berlangsung.

“Pasti mereka akan menelpon ayah dan meminta tebusan… ” Bisik hatinya.

Di dekat sebuah rumah yang berada di tengah-tengah kebun, mobil berhenti. Tegar di bawa ke sebuah ruangan yang luas. Di tengah-tengah ruangan itu ada sebuah tiang, dan Tegar diikat pada tiang tersebut.

“Selesai!” Ucap salah seorang dari mereka yang mengikatnya, dan disambut oleh tawa yang terbahak-bahak mereka.

Tegar meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Tapi sia-sia.

Salah seorang menatap Tegar. Mulutnya tersenyum, dan mata itu? Lebih sangar dari mata ayahnya kalau lagi memarahinya. Tegar memanggil-manggil ayahnya, tapi apa daya, mulutnya ditutup dengan lakban warna hitam.

“Barang bagus nih, bisa dapat tebusan mahal” Ucapan itu ditujukan pada kedua temannya. Dan mereka tertawa lagi.

“Satu miliar!” Teriak salah seorang dari mereka. Mereka tertawa riang lagi.

“Atau masing-masing kita satu cabang cafe!” Sambut yang lainnya.

Dan mereka terbahak-bahak lagi. Tegar merasa jijik mendengar suara tawa mereka. Tapi dia sedih memikirkan ayahnya yang harus mengeluarkan uang sebegitu banyak, atau malah akan kehilangan tiga cabang cafe yang sudah susah-susah dirintis.

Anak yang pintar dan banyak inisiatif ini mulai berfikir untuk menyelamatkan diri.

“Kamu tidak akan bisa meloloskan diri anak muda… ” Seolah-olah dia bisa membaca isi fikiran Tegar, dan membuat Tegar terpaku sesaat.

Salah seorang dari mereka memperhatikan tubuh tegar dari ujung rambut hingga ujung kakinya.

“Waaahhh… Barang ini benar-benar  bagus. Kalau organ-organnya diambil dan dijual, kita bakal dapat uang lebih banyak… “

“Tiga miliar!” Timpal temannya yang lain.

“Lima milyar!” Sambut temannya yang lain. Lalu kelakuan khas mereka muncul lagi.

Laki-laki yang mengusulkan untuk menjual organ tadi mengeluarkan pisau kecil dari sakunya. Dan menjelajahi ujung pisau ke tubuh Tegar. Tegar benar-benar ketakutan. Dia semakin meronta.

“Tunggu, buka pakaiannya hati-hati. Pakaian bagus itu pas untuk anakku. Jangan sampai kena darah.”

Laki-laki satunya bangkit dan menuju Tegar. Lalu membuka hati-hati pakaian Tegar. Pertama kemeja. Selanjutnya sepatu. Kemudian mulai melucuti celana Tegar. Tegar berusaha mempertahankan agar celananya tidak dibuka. Tapi apa daya, tangannya terikat ke belakang di tiang beton, kakinyapun begitu.

Ketika celana itu akan dilepaskan dari kaki Tegar, otomatis laki-laki itu harus melepaskan ikatan kaki Tegar. Detik-detik itu digunakan oleh Tegar untuk menendang sang penelenjang. Tapi, rupanya gerakan ini sudah diantisipasi oleh si penelanjamg. Dan dia dengan mudah menghindar.

“Wow wow…! Tidak mudah menyerah rupanya.” Seolah ingin mempermainkan Tegar, dia dengan santai melepaskan kaki celana berikutnya dari kaki Tegar. Tegar meronta-ronta dan menendang-nendang tidak tentu arah. Lagi-lagi usahanya sia-sia.

Kedua kaki Tegar kembali terikat.

Selanjutnya si penelanjang mulai mau melorotkan CD Tegar, Tegar berusaha melindungi dengan menaikkan sebelah pahanya, tapi lagi-lagi sia-sia.

Dari mulut yang tertutup Tegar mengeluarkan suara, tapi tidak jelas apa yang diucapkan. Matanya melihat si pelaku dengan sinar memohon.

“Tolong om, jangan lakukan ini om… ” Mungkin itu yang dikeluarkan oleh suara Tegar, atau isyarat matanya.

Si penelanjang mengintip sedikit yang tersimpan dalam CD tersebut, lalu menutupnya kembali.

“Barang ini benar-benar bagus. Kita bisa dapatkan uang banyak dalam waktu yang panjang. Kita jual saja pada tante-tante.”

BACA JUGA:  Part II: Tuhan Jangan Dulu Kau Cabut Bunga-Bunga Indah ini

Tegar melototkan matanya. Ide terakhir ini benar-benar menakutkan baginya. Jika ini benar-benar terjadi dia tidak bisa membayangkan wajah ayahnya jika sampai ke telinga pria yang sering hilang akal jika dia marah itu. Bisa-bisa dia akan langsung dibunuh! Dia bergidik

“Sudah, kita istirahat saja dulu. Besok kita rapatkan apa yang akan kita putuskan.” Ucap salah seorang dari mereka. Sepertinya dia adalah pemimpin dari ‘misi’ ini.

“Jual semua organ!” Teriak pengusul untuk menjual organ.

“Jual pada tante-tante!” Si penelanjang menimpali.

Mereka melangkah menjauhi Tegar dengan terbahak-bahak. Tegar merinding. Semua pilihan yang mereka sebutkan tadi mengerikan baginya.

Jika mereka meminta tebusan, ayahnya akan mengeluarkan uang banyak. Bagi ayahnya uang tidak penting jika dibandingkan dengan keselamatan dia dan kakaknya, pasti ayahnya akan menyanggupi. Hati Tegar tidak ingin membuat ayahnya susah.

Kalau dijual semua organ, artinya tubuhnya akan dibongkar dan semua isi badannya yang penting akan diambil, dari ginjal, hati, jantung, paru-paru dan semua yang bisa dimanfaatkan untuk dicangkok ke tubuh orang lain, akan di ambil. Jika begitu, artinya dia akan mati.

“Lebih baik mati, biar ayah dan abang merasakan apa yang aku rasakan malam ini!”

Matanya berkilat. Rupanya dia sangat kecewa pada ayah dan kakaknya malam ini.

“Kalau dijual pada tante-tante? Hiiii… !” Tegar ketakutan sendiri.

“Tapi bagus juga, ini bisa dimanfaatkan untuk melarikan diri. Ayah tidak usah mengeluarkan uang, dan aku tidak harus mati karena diambil organ…. “

Remaja ini senang. Dia menemukan ide jitu. Dia mengantuk, selain malam yang sudah mendekati pagi, dia juga terlalu lelah karena sudah mengeluarkan banyak tenaga malam ini.

Samar-samar suara mesin kendaraan yang lalu lalang dan suara ombak tertangkap oleh pendengaran Tegar. Dia mempertajam pendengaran dan perasaannya. Ketika kesadarannya utuh, dia memperhatikan pakaiannya.

“Utuh!” Bisiknya.

Selain itu dia berada di atas tempat tidur dengan posisi miring menghadap dinding. Ada tangan yang memeluknya. Ketika dia melihat tangan yang memeluknya adalah milik ayahnya, dia sangat senang dan balas memeluk.

Tiba-tiba, dengan sangat kasar Tegar mendorong tubuh ayahnya ke pinggir tempat tidur di sisi lainnya. Sementara, dia berbalik kembali merapat ke dinding. Sang ayah berusaha memeluk lagi, tapi di tepis oleh sang anak dan mendorong kembali tubuh ayahnya agar menjauh. Ayah tidak mau kalah, dia merapatkan kembali tubuhnya dan berusaha memeluk lagi.

Tegar semakin marah. Dia lalu bangkit dan turun dari tempat tidur menuju pintu yang terbuka. Belum lagi kakinya mencapai pintu, ayahnya lalu meloncat dan memeluk tubuh anaknya yang lagi marah padanya.

“Ayah minta maaf, ayah siap dimarah. Ayah siap menerima pukulan… ” Wajah ayahnya menunjukkan penyesalan tapi tidak matanya. Mata itu jelas menggoda Tegar.

Tegar yang masih dalam pelukan memukul-mukul dan menendang-nendang ayahnya. Laki-laki itu terkekeh-kekeh menerima pukulan anaknya.

“Adulh… Aduh…. Sakit dek…. Maafkan ayah…. ” Gaya dan nadanya jelas meniru Tegar waktu dipiting waktu itu. Tegar semakin ‘ganas’ ‘menghukum’ ayahnya.

Di saat Tegar lagi ganas-ganasnya ‘memukul’ sang ayah, Jago yang dari tadi memperhatikan dua laki-laki ini dari pintu, menarik tangan adiknya.

“Sudah…sini ikuti abang… ” Sang ayah yang ‘kesakitan’ melepaskan pelukannya.

Tegar tergopoh-gopoh mengikuti langkah Jago. Walau sebenarnya dia juga menyimpan marah pada kakaknya ini.

Di ruang depan cafe, Jago mendudukkan adiknya pada kursi yang sudah disiapkan. Ada infokus yang sudah dinyalakan entah oleh siapa. Di dinding muncul kegiatan ayah dan abangnya selama di Jogja. Tegar bukannya senang dengan gambar-gambar yang ada dalam video tersebut, tapi malah memunculkan kembali amarahnya.

Pada saat video memunculkan perjalanan yang menunjukkan pendakian ke salah satu gunung, Tegar tidak tahan lagi. Dia bangkit dan marah bukan kepalang, menunjuk-nunjuk dan mengeluarkan kata-kata yang entah apa saja. Dia hampir menyerupai ayahnya.

“Kalian enak-enak pergi jalan-jalan, bahkan ke gunung. Aku di sini merayakan ulang tahunku sendirian. Ayah tidak adil. Waktu abang ulang tahun ke tujuh belas dibikinkan pesta. Sedangkan aku, jangankan ada pesta, kue ulang tahun saja tidak ada. Ayah lebih sayang abang dari pada aku!” Dia mengeluarkan uneg-unegnya.

“Dan tadi malam aku diculik kalian tidak tahu. Aku hampir saja diambil organ-organ, atau dijual sama tante-tante…!” Dia melanjutkan, tapi dia sendiri ragu dengan barusan yang disebutkan, dalam hati dia berkata “jangan-jangan itu semua hanya miimpi… ”

Selesai dia menyampaikan semua, dia ingin pergi dari ruangan, tapi ditahan oleh kakaknya. Dipaksa melihat kelanjutan video pada dinding.

“Untuk anak ayah yang ganteng… ” Kalimat itu berhenti, lalu di lanjutkan oleh abangnya,

“Untuk adek abang yang sudah besar… “

“Dari puncak gunung Merapi, ”
Kalimat barusan di sampaikan oleh orang-orang yang ada di sekeliling ayah Dan kakaknya

Dan spanduk besar mulai terbentang.

Kamera mulai menjauh dan meninggi. Ketika sudah terbentang semua, Tegar terpana, matanya marah campur haru ketika membaca tulisan pada spanduk besar itu “Selamat Ulang Tahun ke 17 Tegar. Cinta kami takkan putus” Lalu kamera drone semakin meninggi memperlihatkan puncak gunung Merapi.

Belum selesai video, Tegar langsung mematikan komputer yang terhubung dengan infokus lalu berdiri menghadap semua orang yang hadir. Ayah dan kakaknya melongo.

“Aku tidak akan memaafkan kalian, karena kalian pergi tanpa pamit dan tidak memberi kabar!”

Gaya dan aksinya benar-benar menyerupai si ayah. Lalu segera mendekati ayahnya, berusaha menjatuhkan laki-laki itu. Setelah jatuh lalu dia memeluk sang ayah.

“Terimakasih ayah. Ayah adalah ayah terhebat di dunia… “

Saat menikmati pelukan Tegar, si Ayah memandang pada tiga orang pria yang bertubuh besar dan gempal, dan menunjuk pada mereka, menunjuk leher mereka, selanjutnya melingkari lehernya sendiri dengan telunjuk itu.

Arti isyarat itu, awas, jangan sampai anakku tahu. Leher kalian taruhannya!

Part : 1 2 3 4 5

Komentar ditutup.