Word Pers Indonesia, Resonansi – Masalah ini terbetik sejak Tahun 2002 lalu, melihat kondisi Provinsi Bengkulu tingkat pembangunan, kemajuannya dari berbagai lini bergerak bak keong racun.
Mungkinkah karena letak geografisnya tidak strategis, tidak punya nilai jual secara politis? Ataukah karena Pengurus Negeri Bengkulu ini kurang kemauannya, kemampuannya dalam membangun?
Adakah yang salah dengan rasa, sikap primordialisme anak negeri?
Primordialisme atau sebuah pandangan atau paham yang memegang teguh hal-hal yang dibawa sejak kecil. Baik mengenai tradisi, adat-istiadat, kepercayaan, maupun segala sesuatu yang ada di dalam lingkungan pertamanya.
Kenapa provinsi ini diberbagai bidang secara kasat mata tampak lamban, bahkan cenderung stagnan. Memang, sejak era tahun 80-an, di Provinsi Bengkulu umumnya, premordialisme realitasnya simbolik.
hanya merupakan pajangan, window show saja. Ekstrim nya, apakah anak negeri ini memang sudah tidak punya primordialisme sama sekali?
Para pengurus publik provinsi, kota dan kabupaten ada kesan seperti mempunyai obsesi aneh. Mereka hanya ingin mendapat predikat pemimpin hebat, terhormat, akan punya komitmen, meskipun itu hanya “akan”, wacana yang akan menjadi wacana.
Setidaknya, kontradiksi dan ironi seperti ini menampar pengurus negeri dan anak negerinya hingga kini.
Slogan, “Biar Miskin Asal Sombong atau 7×7 =49, Setuju Tidak Setuju, yang Penting Penampilan” itu merupakan pegangan.
Entah pula di tahun 2016 ini, dimana kepala daerah mayoritas baru semua. Besar harapan agenda premodialisme itu dihidupkan kembali, sebab itu bukanlah barang haram yang harus dibuang.
Bermimpi
Jangan pernah bermimpi seni budaya dan sejarah yang katanya kaya akan terangkat menggema di permukaan.
Jangan pernah bermimpi provinsi ini akan kembali asri, menjadi kota kenangan bila penataan pembangunan sesuai kepentingan kelompok atau pribadi.
Masalahnya sekarang, bermimpi pun tidak pernah. Jadi bagaimana kita akan membicarakan bahasa suku daerah yang mulai terkikis saat ini?
Permainan anak negeri dari seperti sembarlakon, kudo api, palak babi dan lainnya dibiarkan hilang dari mimpi itu.
“Du choes des opinions jaillit la verite. Dari benturan berbagai opini, akan muncul sebuah kebenaran”, kata orang Perancis.
Biarkanlah orang berumur yang berfikiran tanpa kepentingan pribadi menilai soal Bengkulu Utara Hingga Kaur. Dari Kota Bengkulu hingga Mukomuko, Biarkan mereka bertanya soal seni dan budaya dengan literatur sejarah yang “tidak ada”.
Jangan suruh mereka bicara soal kemaritiman yang notabene mengitari daratan Bengkulu yang tidak pernah di diberdayakan dan tidak disadari oleh generasi baru. Mungkin soal ini terlalu jauh meskipun itu cercah harapan bagi daerah.***